“Tidak disuruh mengisi pun masyarakat ini ada antusias. Ada yang isi Rp2 ribu, ada yang isi Rp5 ribu,” kata Joko.
Depot tersebut juga rutin dirawat untuk memastikan air tetap bersih. Peralatan dibersihkan sekitar dua pekan sekali, sementara saringan dikontrol secara berkala. Menurut Joko, biaya operasional hariannya pun relatif kecil, yakni sekitar Rp3.000.
Berawal dari Anak Petani
Kepedulian Joko terhadap kehidupan petani sudah tumbuh sejak kecil. Ia lahir dan besar dari keluarga petani sehingga aktivitas di sawah menjadi bagian dari kesehariannya.
“Kalau dikatakan menjadi petani kapan, sebenarnya kami lahir jadi anak petani. Jadi kami jadi petani ini mulai lahir,” tuturnya.
Namun, menjadi ketua kelompok tani bukanlah sesuatu yang direncanakannya sejak awal. Pada 2006, Joko mengikuti pertemuan terkait pembentukan kelompok tani. Di luar dugaan, ia terpilih menjadi ketua, meski saat itu belum mengetahui banyak hal tentang tugas tersebut.
“Yang harus ke mana dan ngomong apa ini tidak ngerti,” kenangnya.