Joko kemudian belajar dari pengalaman. Ia mencari informasi, memahami pengelolaan kelompok tani, dan membangun pengetahuan bersama para anggota. Hampir dua dekade berlalu, pengalaman tersebut membawanya menjadi petani progresif yang memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas. Poktan Sri Makmur kini mampu menghasilkan sekitar 9 ton gabah per hektare dan memungkinkan petani panen hingga tiga kali dalam setahun.
Pupuk Lebih Terjangkau, Petani Lebih Ringan
Salah satu persoalan yang pernah dirasakan Joko dan para petani adalah ketersediaan serta harga pupuk. Bagi petani dengan modal terbatas, biaya pupuk bisa menjadi beban tersendiri.
“Sudah bertani itu berat, memikirkan pupuknya jadi semakin berat saja,” ujarnya.
Melihat kondisi tersebut, Joko mengajukan izin untuk menjadi kios pupuk resmi. Tujuannya agar petani di sekitarnya lebih mudah mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau. Ia pun merasakan langsung perbedaan harga pupuk bersubsidi dan nonsubsidi.
“Kalau kita beli non-subsidi itu harganya bisa tembus sampai Rp400 ribu. Kalau kita beli subsidi Rp90 ribu, itu betul-betul terasa sekali perbedaan pupuk subsidi dan nonsubsidi,” kata Joko.
Menurut Joko, dukungan pemerintah kepada petani kini semakin terasa. Selain pupuk bersubsidi, petani juga mendapat bantuan alat berat yang membantu mempercepat proses tanam.