JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan, pentingnya kolaborasi dalam menangani persoalan sampah di Ibu Kota. Sebab, sebelumnya pengelolaan sampah di Jakarta hanya dilakukan dengan mengumpulkan sampah untuk kemudian langsung dibuang ke TPST Bantargebang.
Namun, seiring kebijakan TPST Bantargebang yang saat ini hanya menerima sampah residu, pengelolaan sampah di Jakarta kini wajib melalui proses pemilahan terlebih dahulu sebelum dibuang.
“Dulu polanya adalah angkut-buang. Sekarang menjadi pilah-angkut-olah. Perubahan prinsip ini tentunya memerlukan keseriusan dan kerja sama kita semua agar bisa berjalan dengan baik,” kata Pramono, Selasa (1/9/2026).
Ia menyebut, Jakarta setiap harinya menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah atau sekitar 3,17 juta ton per tahun. Menurutnya, persoalan tersebut mustahil dapat teratasi secara tuntas tanpa kolaborasi yang baik dari seluruh pemangku kepentingan.
Ia kemudian memaparkan bahwa gerakan pilah sampah yang dicanangkan pada 10 Mei 2026 mulai menunjukkan hasil. Persentase rumah tangga yang memilah sampah meningkat dari 5,31 persen menjadi 23,14 persen.