Kemudian, pengelolaan sampah organik melalui bank sampah juga meningkat dari 1.046 ton menjadi 1.432 ton. Pada saat yang sama, volume sampah yang dikirim ke TPST Bantargebang berkurang sekitar 500 ton per hari.
“Ini tentunya mempunyai makna yang cukup baik bagi kita, sudah on the track. Untuk itu, diperlukan keseriusan dan keberlanjutan dari komunitas dalam pelaksanaan gerakan pilah sampah. Gerakan ini dan penanganan persoalan persampahan di Jakarta memang betul-betul harus kita tangani secara komprehensif,” kata dia.
Pramono juga menekankan pentingnya konsistensi dan pengawasan agar perubahan pola pengelolaan sampah dapat berjalan secara berkelanjutan. Bahkan, ia meminta persoalan persampahan menjadi agenda rutin yang dibahas di lingkungan Balai Kota.
Selain mengurangi sampah dari sumbernya, Pemprov DKI Jakarta juga terus mengembangkan fasilitas pengolahan sampah, salah satunya RDF Rorotan yang saat ini mampu mengolah sekitar 800 hingga 1.000 ton sampah per hari.
Ia menilai, penanganan sampah secara komprehensif dapat memberikan multiplier effect berupa penurunan polusi sekaligus mendukung pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Sementara itu, Pendiri dan Pimpinan Indonesia Water Institute, Firdaus Ali, mengapresiasi komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menangani persoalan sampah. Ia berharap, melalui Local Hero Indonesia Forum 2026, berbagai inisiatif masyarakat dalam mengelola sampah dapat berkembang menjadi kolaborasi yang lebih luas dan memberikan dampak nyata bagi keberlanjutan lingkungan Jakarta.
“Perubahan perilaku harus dimulai dari rumah tangga dan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor,” pungkasnya.
(Awaludin)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.