Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Tiket TMS Ragunan Diusulkan Jadi Rp10 Ribu karena Tak Pernah Naik Selama 20 Tahun

Riyan Rizki Roshali , Jurnalis-Sabtu, 05 September 2026 |14:14 WIB
Tiket TMS Ragunan Diusulkan Jadi Rp10 Ribu karena Tak Pernah Naik Selama 20 Tahun
Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth
A
A
A

JAKARTA - Rencana penyesuaian tarif masuk Taman Marga Satwa (TMS) Ragunan memasuki babak baru. Komisi C DPRD DKI Jakarta dan pengelola Ragunan telah menyepakati adanya kenaikan harga untuk kedepannya.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta, Dimaz Raditya mengungkapkan, rencana penyesuaian tarif diambil demi meningkatkan fasilitas dan layanan di area Ragunan. Tarif Rp4 ribu untuk dewasa dan Rp3 ribu untuk anak-anak dirasa kurang relevan dengan pendapatan warga Jakarta saat ini.

“Tarif Ragunan ini sudah 20 tahun tidak pernah naik. Sementara, kondisi ekonomi dan pendapatan masyarakat Jakarta terus meningkat. Tarif sekarang paling mahal Rp4.000. Rencana akan dinaikkan menjadi Rp10.000, tetapi masih terus kami kaji perihal angka,” kata Dimaz di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Komisi C DPRD DKI Jakarta berencana melakukan penyesuaian tarif masuk Ragunan di angka Rp10 ribu Angka Rp10 ribu masih rasional dan ramah di kantong jika dibandingkan dengan beberapa destinasi wisata di Jakarta, seperti Ancol dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth menilai, penyesuaian tarif memang perlu dilakukan demi membenahi berbagai sarana dan prasarana di Ragunan. Misalnya dari sisi tingkat keamanan yang perlu diperhatikan.

Ia mencontohkan, pada Mei 2026 lalu ada seorang anak yang terjatuh ke kandang gajah. Dengan demikian, perlu ada evaluasi dengan meningkatkan sektor keamanan kandang supaya kejadian serupa tak terulang.

Menurutnya, penyesuaian tarif tiket masuk dapat mengurangi beban subsidi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Jakarta karena APBD masih menanggung biaya operasional Ragunan hingga 70%.

“Beberapa waktu lalu ada anak yang terjatuh ke area kandang gajah. Nah, ini menjadi salah satu catatan kami dan kami berharap standar keamanan bisa ditingkatkan seiring penyesuaian tarif,” ungkap Kenneth.

Dengan tarif baru, Ragunan diharapkan mampu secara bertahap mentransformasikan diri menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang mandiri.

“Harapan kami dengan adanya peningkatan tarif ini adalah Taman Margasatwa Ragunan bisa mandiri secara finansial. Efisiensi pada anggaran APBD nantinya bisa digunakan untuk program lain yang lebih membutuhkan,” ujarnya.

 

Dia juga membeberkan sejumlah catatan evaluasi kritis dari hasil inspeksi lapangan yang dilakukan pada Kamis sore. Menurutnya, penambahan pendapatan dari penyesuaian harga tiket masuk harus dialokasikan pada aspek-aspek vital, seperti perbaikan sanitasi, kebersihan toilet, hingga program pemuliaan satwa.

“Kondisi satwa harus tetap prima. Bahkan untuk satwa besar seperti gorila jantan yang saat ini belum memiliki pasangan, kita dorong agar ada skema pertukaran satwa antar kebun binatang agar bisa mendapatkan gorila betina sehingga mereka bisa berkembang biak dengan layak. Kesejahteraan pegawai dan petugas teknis di lapangan juga harus diperhatikan. Semua ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” ujarnya.

Menurutnya, penambahan pemasukan yang diterima pengelola Ragunan dari penyesuaian harga tiket masuk juga dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah dokter hewan. Sebab, jumlah dokter hewan di Taman Margasatwa Ragunan belum sebanding dengan jumlah satwa yang berjumlah lebih dari 2.200 satwa.

“Ada lebih dari 2.200 jumlah satwa di Taman Margasatwa Ragunan, tetapi jumlah dokter hewannya hanya berjumlah 8 orang, kan timpang sekali ini. Kalau penyesuaian tarif tiket masuk bisa menambah pemasukan, maka penambahan dokter hewan harus menjadi hal prioritas yang wajib dilakukan,” pungkasnya.

Di sisi lain, Kepala Taman Margasatwa Ragunan, drh. Endah Rumiyanti, menyambut baik adanya wacana penyesuaian harga tarif masuk.

 

Endah mengungkapkan, pihaknya terlalu bergantung dengan APBD DKI Jakarta setiap tahunnya. Sementara, pendapatan tiket masuk cenderung stagnan selama 20 tahun terakhir.

“Total kebutuhan anggaran operasional kami per tahunnya mencapai sekitar Rp160 miliar, tapi pendapatan mandiri yang mampu kami kumpulkan baru sekitar Rp30 miliar per tahun. Artinya, tingkat subsidi dari pemerintah daerah masih berada di kisaran 70 persen,” ungkap Endah.

Meski begitu, Endah menegaskan, bahwa wacana penyesuaian tarif bukanlah bentuk komersialisasi kawasan, melainkan upaya reorientasi pelayanan publik agar Ragunan dapat merealisasikan masterplan pengembangan kawasan secara sistematis.

“Bila penyesuaian tarif ini terlaksana, fokus utama kami adalah pembenahan fasilitas pendukung, perbaikan serta pemeliharaan kandang satwa, hingga penataan sistem zonasi kawasan berdasarkan masterplan yang telah disusun. Goal utamanya adalah menghadirkan ruang terbuka hijau dan kebun binatang berstandar internasional yang aman, nyaman, dan edukatif,” tandasnya.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement