Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Peristiwa 7 September: Aktivis HAM Munir Tewas

Arief Setyadi , Jurnalis-Senin, 07 September 2026 |06:01 WIB
Peristiwa 7 September: Aktivis HAM Munir Tewas
Aktivis HAM Munir Said Thalib (Foto: Ist)
A
A
A

JAKARTA - Sejumlah peristiwa bersejarah terjadi pada 7 September. Beberapa di antaranya adalah deklarasi kemerdekaan Brasil dari Portugis, hingga wafatnya aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib.

Berikut sejumlah peristiwa yang tercatat terjadi pada 7 September, dilansir dari berbagai sumber di antaranya dari wikipedia:

- Brasil Deklarasi Kemerdekaan dari Portugis

Brasil mendeklarasikan kemerdekaannya dari Portugis pada 7 September 1822. Negara yang kini dikenal sebagai Republik Federatif Brasil atau Republik Federal Brasil tersebut menyatakan diri sebagai negara merdeka.

Pengakuan terhadap kemerdekaan Brasil baru diberikan pada 7 September 1825. Beberapa tahun kemudian, tepatnya 15 November 1889, Brasil berubah menjadi negara republik setelah sebelumnya menerapkan sistem monarki.

- Aktivis HAM Munir Meninggal Dunia

Munir Said Thalib merupakan salah satu aktivis HAM Indonesia. Ia lahir di Malang, Jawa Timur, pada 8 Desember 1965 dan meninggal dunia pada 7 September 2004 dalam perjalanan menggunakan pesawat menuju Amsterdam. Saat itu, Munir berusia 38 tahun.

Kala itu, Munir merupakan Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Namanya semakin dikenal ketika aktif di Dewan Kontras dan memperjuangkan nasib orang-orang yang hilang akibat penculikan.

Pada masa tersebut, Munir turut membela para aktivis yang menjadi korban penculikan oleh Tim Mawar dari Kopassus. Berdasarkan catatan Wikipedia, Munir meninggal akibat diracun. Peristiwa tersebut terjadi dalam penerbangan GA-974. Sekitar tiga jam setelah pesawat lepas landas dari Singapura, awak kabin melaporkan kepada pilot Pantun Matondang bahwa Munir, yang duduk di kursi 40 G, mengalami sakit.

Munir juga diketahui beberapa kali pergi ke toilet. Pilot kemudian meminta awak kabin untuk terus memantau kondisi Munir.

- Pemberontakan Boxer Berakhir

Pemberontakan Boxer merupakan gerakan di Tiongkok yang berlangsung sejak November 1899 hingga 7 September 1901. Gerakan tersebut muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap pengaruh asing di berbagai bidang, mulai dari perdagangan, politik, agama, hingga teknologi.

Gerakan Boxer dikenal sebagai aksi anti-asing dan anti-imperialis yang banyak melibatkan petani di wilayah Tiongkok utara. Kelompok tersebut menyerang warga asing, termasuk pihak yang terlibat dalam pembangunan jalur kereta api. Mereka juga menentang orang-orang Kristen yang dianggap berkaitan dengan dominasi asing di Tiongkok.

Pada Juni 1900, kelompok Boxer menyerang Beijing dan menewaskan sekitar 230 orang non-Tionghoa. Sejumlah warga Tionghoa yang beragama Kristen, termasuk umat Katolik di Provinsi Shandong dan Shanxi, turut menjadi korban.

Dengan membawa slogan "Dukung Qing, hancurkan Barat", gerakan tersebut terus melakukan perlawanan. Diplomat, penduduk, tentara asing, serta sejumlah warga Tionghoa Kristen kemudian berlindung di Legation Quarter selama 55 hari.

Pemberontakan akhirnya dapat dipadamkan setelah Aliansi Delapan Negara tiba dengan membawa sekitar 20.000 tentara.

Berakhirnya pemberontakan ditandai dengan penandatanganan Protokol Boxer pada 7 September 1901. Kesepakatan tersebut memberikan sanksi berat kepada Dinasti Qing, termasuk kewajiban membayar ganti rugi sebesar 450 juta tael perak.

Protokol tersebut kemudian memberikan pengaruh besar terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial di Tiongkok. Kepercayaan terhadap pemerintahan menurun, sementara kenaikan pajak semakin memperlemah Dinasti Qing hingga akhirnya pemerintahan tersebut tumbang dalam revolusi pada 1911.

- Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Lahir

Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940. Ia meninggal dunia di Jakarta pada 30 Desember 2009 dalam usia 69 tahun.

Gus Dur merupakan tokoh Muslim Indonesia sekaligus pemimpin politik yang kemudian menjadi Presiden Indonesia keempat. Ia menjabat sebagai presiden sejak 1999 hingga 2001.

Gus Dur terpilih menjadi presiden oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) hasil Pemilu 1999 dan menggantikan B.J. Habibie. Dalam menjalankan pemerintahannya, Gus Dur dibantu Kabinet Persatuan Nasional.

Masa kepemimpinannya dimulai pada 20 Oktober 1999 dan berakhir setelah mandatnya dicabut MPR melalui Sidang Istimewa pada 23 Juli 2001. Setelah itu, posisi presiden beralih kepada Megawati Soekarnoputri.

Selain dikenal sebagai presiden, Gus Dur juga pernah menjabat Ketua Tanfidziyah atau badan eksekutif Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga merupakan salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Meski demikian, terdapat catatan berbeda mengenai tanggal kelahiran Gus Dur. Selain 7 September 1940, tanggal 4 Agustus 1940 juga disebut sebagai hari kelahirannya. Mahfud MD pernah menyatakan bahwa Gus Dur lahir pada 4 Agustus.

(Arief Setyadi )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement