JAKARTA — Polri memperkuat upaya pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla). Sebanyak 322 personel Satgas Edukasi, Penyuluhan, dan Pencegahan Karhutla gelombang kedua diberangkatkan ke empat provinsi.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo sebelumnya menegaskan, pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan penegakan hukum setelah kebakaran terjadi. Kesadaran masyarakat dan kemampuan mencegah potensi kebakaran sejak dini harus menjadi kekuatan utama.
Sebelumnya, Polri juga menerjunkan personelnya saat aktivitas erupsi gunung api di sejumlah wilayah Indonesia.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Himpunan Mahasiswa Al Washliyah (PP HIMMAH), Abdul Razak Nasution, mengatakan bahwa kehadiran personel Polri di tengah masyarakat dalam situasi darurat merupakan bentuk nyata pengabdian kepada rakyat.
“Polri terus bekerja maksimal dalam menangani berbagai kejadian dan gejala alam di Indonesia, termasuk persoalan kebakaran hutan dan lahan serta aktivitas erupsi gunung api. Ini adalah bukti bahwa Polri adalah Polisi Rakyat, karena bekerja semaksimal mungkin dengan mengutamakan keselamatan dan kepentingan masyarakat,” ujar Abdul Razak Nasution di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurut Razak, tantangan kebencanaan yang dihadapi Indonesia membutuhkan respons cepat, koordinasi lintas sektor, serta kehadiran aparat negara sampai ke tengah masyarakat.
“Sama-sama kita lihat, negara kita dalam beberapa waktu terakhir menghadapi persoalan kebencanaan yang tidak ringan. Di satu sisi kita menghadapi ancaman karhutla, sementara di sisi lain aktivitas vulkanik juga terjadi di sejumlah gunung api. Kondisi seperti ini membutuhkan kecepatan, kesiapsiagaan, dan kerja sama seluruh elemen bangsa,” katanya.
Langkah Polri dalam menghadapi karhutla patut diapresiasi karena tidak hanya mengedepankan tindakan pemadaman setelah kebakaran terjadi, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan, edukasi masyarakat, deteksi dini, hingga penegakan hukum.