Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

78 Tahun Tragedi Berdarah di Madiun, Atlet Nasional hingga Pelajar Tewas Dibantai PKI

Fahmi Firdaus , Jurnalis-Kamis, 17 September 2026 |05:00 WIB
78 Tahun Tragedi Berdarah di Madiun, Atlet Nasional hingga Pelajar Tewas Dibantai PKI
Demo Menentang PKI/ist
A
A
A

JAKARTA -  Pemberontakan Partai Komunis Indonesia/Front Demokrasi Indonesia (PKI/FDR) di Madiun atau yang biasa disebut Madiun Affairs, pada18 September 1948, atau 78 tahun silam, banyak memakan korban jiwa. Diantaranya pelajar serta atlet peraih emas Pekan Olahraga Nasional (PON) pertama 1948.

Setelah berdirinya Republik Soviet Indonesia sebagai implementasi Madiun Affair, Kota Madiun dikuasai PKI/FDR, para simpatisan sayap kiri merebut sejumlah jabatan pemerintahan dari tangan para pegawai pemerintah.

Namun di dalam kota masih ada sejumlah elemen “pendukung” pemerintahan Republik Indonesia dari unsur pelajar, setelah sebelumnya sejumlah anggota TNI dari Divisi Siliwangi berhasil dilucuti PKI/FDR.

Melansir buku ‘Sejarah Daerah Jawa Timur’, Kamis (17/9/2026), Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) saat ini masih  bertahan di asrama. Asrama TRIP yang kini jadi gedung SMPN 2 Madiun itu pun turut diserbu FDR/PKI pada suatu siang, 22 September 1948.

Dalam penyerbuan itu, tewas seorang pejuang pelajar, Moeljadi yang kala itu bertugas jaga di asrama. Moeljadi tinggal nama di ujung senapan yang ironisnya, dilakukan kakak kandungnya sendiri.

Namun tidak hanya ditembak, tubuh Moeljadi juga ditusuk-tusuk sangkur untuk memastikan sudah tewas. Sementara sisa anggota TRIP lainnya ditangkapi.

Pembunuhan para pelajar pejuang itu memicu amarah sejumlah anggota TRIP lain, serta para pelajar di Kota Madiun. Para pelajar bahkan terang-terangan membentuk gerakan Pelajar Anti Musso (PAM), dengan menyebar selebaran anti PKI pimpinan Musso dan Amir Sjarifoeddin.

Sementara untuk meredam gerakan para pelajar, Residen Madiun yang tentunya juga simpatisan PKI, Abdul Muntalib, mengumpulkan sekitar enam ribu pelajar di Pendopo Kabupaten Madiun.

 

Namun para pelajar tak menanggapi ceramah sang residen dan justru membuat keriuhan dan kegaduhan yang tak bisa dikendalikan Muntalib sendiri. Para pelajar sudah tak mau mendengarkan lantaran sudah kadung marah akibat peristiwa terbunuhnya Moeljadi dan anggota TRIP lainnya.

Hari-hari berikutnya para pelajar kian gencar menantang pemerintahan Republik Soviet Indonesia. PKI/FDR meyakini gerakan para pelajar berporos pada TRIP, hingga sejumlah anggotanya kembali ditangkapi.

Tujuh pelajar pejuang diringkus pada 28 September 1948, berkat tiga pelajar lain yang sudah jadi simpatisan PKI.

Satu di antara pelajar pejuang yang dibawa ke Desa Kresek adalah Soetopo. Seorang pelajar setingkat SMA yang sempat memenangkan medali emas cabang lomba lari pada PON pertama, 9-12 September 1948.

Situasi mencekam para pelajar di Madiun baru reda saat pasukan gabungan TNI dari Divisi Gunung Jati, Divisi Siliwangi dan Brawijaya membasmi PKI/FDR dan menguasai Kota Madiun pada 30 September 1948.

(Fahmi Firdaus )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement