Di sisi lain, ia mendukung langkah pemerintah memulihkan Tesso Nilo melalui program reforestasi yang ditargetkan mencapai 66.704 hektare hingga 2028. Namun, keberhasilan pemulihan tidak cukup diukur dari luas kawasan yang telah ditertibkan atau jumlah bibit pohon yang ditanam.
Azis menekankan, keberhasilan sesungguhnya harus terlihat dari pulihnya ekosistem, terjaganya habitat satwa, serta berkurangnya risiko perambahan berulang. “Pengawasan parlemen dan publik perlu mengikuti kondisi lapangan setelah kegiatan seremonial berakhir,” katanya.
Persoalan Tesso Nilo menjadi pelajaran penting mengenai perlunya tata kelola sumber daya alam yang mampu menghubungkan keuntungan ekonomi dengan tanggung jawab hukum dan lingkungan. “Tesso Nilo mengajarkan bahwa moral hazard menguat ketika manusia percaya keuntungan dapat menjadi miliknya sementara akibatnya akan selalu dipikul orang lain,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemulihan hutan harus dilakukan dengan tetap menjaga martabat masyarakat yang terdampak kebijakan penertiban. “Hutan yang pulih dan manusia yang tetap bermartabat akan menjadi bukti bahwa negara telah belajar dari perjalanan panjang ini,” pungkasnya.
(Arief Setyadi )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.