Pasukan Roket PLA, yang bertanggung jawab atas kekuatan rudal konvensional maupun nuklir Tiongkok, termasuk di antara satuan yang terdampak oleh penyelidikan sebelumnya.
Namun, para pejabat Tiongkok berpendapat bahwa langkah pembersihan ini justru ditujukan untuk memperkuat, bukan melemahkan, efektivitas militer.
Pertanyaan yang lebih sulit adalah apakah pergolakan kepemimpinan yang berulang dapat memengaruhi kemampuan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) dalam melaksanakan operasi militer yang kompleks.
Di tengah gejolak tersebut, Tiongkok tetap mempertahankan postur pertahanannya, terus melakukan uji coba persenjataan, serta melaksanakan latihan yang semakin canggih. Namun, situasi darurat berskala besar, seperti yang mungkin terjadi terkait Taiwan, akan menuntut koordinasi komando, operasi gabungan, dan pengambilan keputusan yang jauh lebih berat.
Sejauh ini, PLA berhasil menjaga agar operasi militer rutin tidak terpengaruh oleh gejolak kepemimpinan. Akan tetapi, Xi tampaknya bersedia menerima gangguan jangka pendek demi mencapai disiplin yang lebih ketat dan kesiapan tempur jangka panjang.
Ketidakpastian ini diperparah oleh minimnya perwira senior yang memiliki pengalaman operasional seperti Zhang. Tiongkok belum pernah terlibat dalam perang besar sejak 1979, sehingga sosok pemimpin senior yang benar-benar teruji dalam pertempuran menjadi sangat langka.
Pembersihan ini juga menegaskan peran mendasar PLA sebagai sayap bersenjata Partai Komunis, alih-alih sebagai institusi militer nasional yang beroperasi secara independen dari partai tersebut.