Konflik Yaman mengajukan pertanyaan mendasar terhadap paradigma keamanan internasional, yakni, apakah superioritas militer benar-benar dapat menciptakan perdamaian?
Amerika Serikat memiliki keunggulan teknologi, kekuatan udara, armada laut, dan jaringan pangkalan militer global. Israel juga memiliki kemampuan intelijen dan pertahanan udara yang sangat maju. Namun, keunggulan tersebut tidak otomatis menghilangkan kemampuan Iran untuk melakukan perlawanan asimetris melalui rudal, drone, jaringan sekutu regional, dan juga tekanan terhadap jalur perdagangan strategis.
Iran mungkin menghadapi kerusakan infrastruktur militer yang parah, tetapi kemampuan untuk mengganggu stabilitas kawasan tetap menjadi instrumen tawar-menawar geopolitiknya. Lebih jauh, strategi Iran menggunakan Selat Hormuz sebagai instrumen tekanan juga memiliki konsekuensi serius. Negara-negara tetangga dan masyarakat dunia ikut menanggung risiko ekonomi dan keamanan. Karenanya, tidak tepat apabila keamanan regional hanya dipahami sebagai kemenangan strategis salah satu pihak.
Perkembangan 3 November 2026 memperlihatkan bahwa perang Iran, Amerika Serikat, dan Israel belum benar-benar menemukan titik akhir penyelesaian. Serangan terbatas Amerika Serikat di sekitar Selat Hormuz berlangsung ketika perundingan melalui Qatar masih berjalan. Washington berbicara mengenai kemungkinan kesepakatan, sementara Teheran menegaskan bahwa tuntutan politik dan ekonominya harus dipenuhi.
Kondisi ini mengingatkan kita bahwa diplomasi tanpa kepercayaan mudah kehilangan makna, sementara kekuatan militer tanpa visi perdamaian hanya memperpanjang ketidakpastian. Barangkali persoalan paling mendasar dalam perang ini adalah kecenderungan para pemimpin negara untuk mengukur keamanan melalui kemampuan mengalahkan lawan, bukan kemampuan membangun tatanan yang memungkinkan semua pihak hidup tanpa ancaman.
Perdamaian tidak lahir ketika satu negara berhasil mempermalukan negara lainnya. Ia juga tidak tercipta hanya karena sebuah negara kehilangan kemampuan untuk melancarkan serangan balasan. Perdamaian secara niscaya membutuhkan kesediaan politik untuk mengakui bahwa keamanan satu negara tidak mungkin dibangun secara permanen dengan menghancurkan keamanan negara lain.
Pungkasannya, Timur Tengah tidak membutuhkan lebih banyak rudal, blokade, dan ancaman pembalasan. Kawasan ini membutuhkan arsitektur keamanan yang mengakui kepentingan seluruh negara, menghormati kedaulatan, melindungi masyarakat sipil, dan menyediakan ruang bagi penyelesaian perselisihan secara damai. Sebab, kemenangan terbesar dalam perang bukanlah ketika musuh berhasil dikalahkan, melainkan ketika generasi berikutnya tidak lagi harus mewarisi perang yang sama.
(Fahmi Firdaus )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.