MADIUN â€" Bencana alam tanah longsor mulai mengancam wilayah Kabupaten Madiun pada musim penghujan tahun ini. Akibat diguyur hujan lebat selama beberapa jam, kawasan lereng Gunung Wilis tepatnya di Desa Seweru, Kec Kare, Kab Madiun, mengalami bencana tanah longsor.
Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini, namun puluhan pohon pinus roboh. Selain itu, jaringan irigasi pertanian serta saluran pipa air bersih untuk keperluan warga ikut rusak dan terseret material longsoran.
Warga khawatir jika hujan kembali mengguyur kawasan itu akan terjadi bencana tanah longsor susulan. Sebab, kontur tanah di kawasan lereng Gunung Wilis tersebut labil, tipis, dan mudah merekah. Jika terkena air dari atas perbukitan akan mudah sekali terjadi longsor.
Sementara itu, akibat saluran air bersih rusak, warga yang berada di tujuh desa yakni Desa Kaneman, Blimbing, Plosorejo, Randualas, Padaplang, dan Gondosuli, semuanya berada di wilayah Kec Kare, terancam tidak mendapatkan pasokan air bersih. Sebab, selama ini mereka mengandalkan suplai air bersih dari kawasan lereng Gunung Wilis tersebut.
Menurut Sumarno, 47, warga setempat, musibah tanah longsor sebenarnya sudah terjadi dua hari yang lalu. Namun, warga baru melaporkan kepada pihak Pemkab Madiun, kemarin. "Longsoran tanah hanya menimpa pohon pinus dan jaringan air bersih. Kedalaman longsoran tanah sekitar 15 meter," ujarnya, di lokasi longsoran, Minggu (2/12/2007).
Menurut dia, akibat terjadi tanah longsor itu jalan setapak menuju obyek wisata air terjun Slampir sempat terganggu. Para pengunjung yang hendak menuju ke obyek wisata tersebut terpaksa memutar melalui jalur lain. Sedangkan, upaya perbaikan terhadap jaringan pipa air minum masih dilakukan melalui swadaya warga setempat.
"Warga sini juga mengimbau kepada pengunjung air terjun untuk berhati-hati karena kemungkinan longsor susulan bisa saja terjadi karena kondisi lapisan tanah di kawasan jalan setapak labil dan tipis," ujarnya.
Dari data yang dihimpun menyebutkan, wilayah di Madiun yang dinyatakan rawan bencana tanah longsor meliputi empat kecamatan yakni Kec Saradan, Dagangan, Kare, dan Gemarang.
Menurut Kepala Sub Dinas (Kasubdin) Perlindungan Masyarakat, Dinas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas), Pemkab Madiun, Purnomo Eko Sudjono, bencana tanah longsor sering terjadi di daerah perbukitan dan pegunungan yang hutannya gundul. "Kami sudah mengantisipasi terjadinya bencana tanah longsor dengan menyiapkan petugas satlak dan menyediakan perlengkapan dan peralatan untuk membantu warga," ujarnya.
Daerah yang paling sering terjadi tanah longsor berada di Desa Kandangan, Randualas, Seweru, Cermo di wilayah Kec Kare. Sedangkan di Kecamatan Saradan berada di Desa Sumber Bendo dan Tawangsono, Kecamatan Dagangan di Desa, Dawuhan, Gemuruh dan Gondang. "Bencana tanah longsor itu terjadi karena tanahnya labil dan banyak yang tandus. Ketika ada air dari atas tanah yang labil mudah merekah sehingga menyebabkan longsor," ujarnya.
(Ahmad Dani)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.