TERNATE - Suhaim, ayah dari Muhammad Fauzan, bocah yang tewas tenggelam di kolong rumahnya, ternyata sudah memiliki firasat buruk sebelum kejadian yang menimpa putra ketiganya itu.
Usai menguburkan anaknya, kepada okezone yang bertandang ke rumah duka, Rabu (19/12/2007), Suhaim menceritakan, sebelum berangkat kerja, Suhaim sempat dikejutkan dengan keinginan putranya itu untuk mencium pipinya.
"Ini bukan hal yang lumrah. Baru kali ini Ojan (sapaan Fauzan), meminta saya melakukan hal itu," ujar Suhaim yang mengaku hatinya tergetar mendengar keinginan anaknya itu.
Saat dicium dan dipeluk dengan mesranya, Fauzan dengan sedikit berbisik di telinga ayahnya mengatakan ingin makan roti dan permen. Heran dengan sikap Fauzan yang agak lain, Suhaim pun lantas memberinya uang.
"itu untuk pertama dan terakhir kalinya anak saya minta jajan. Biasanya pada nenek atau ibunya," ceritanya terenyuh dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
Dua hal aneh inilah yang membuat Suhaim agak berat meninggalkan rumah. Tapi karena harus menyelesaikan pekerjaannya demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Suhaim dengan berat hati berangkat kerja.
"Ijazah saya hanya tamatan SMA. Kuliah dua semester tapi saya di-DO karena tak punya biaya untuk melanjutkan kuliah. Terpaksa dengan kebutuhan yang ada, saya nekad menjadi kuli bangunan," kata ayah tiga anak itu.
Saat berangkat dengan sepeda motornya yang masih dikredit, Suhaim pun kembali dibuat takjub dengan lambaian tangan Fauzan. "Ini juga peristiwa yang tak lazim. Biasanya saat berangkat kerja pagi-pagi, Fauzan masih tidur dan tidak pernah melambaikan tangan tanda berpisah dengan saya," katanya.
Meski demikian, suami dari Irianti Arifin itu tetap berangkat kerja meski dengan berat hati.
Saat di lokasi tempat kerjanya, Suhaim yang barusan selesai menyantap makan siangnya dan bermaksud untuk melakukan shalat Dzuhur, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan bunyi handphone di sakunya. Ini juga hal yang bisa dibilang tidak disengaja, karena biasanya Suhaim tidak pernah menghidupi HP-nya saat bekerja.
Ternyata, telepon tersebut datang dari adik iparnya yang menyuruhnya pulang ke rumah.
"Saat ditelepon, adik isteri saya nangis-nangis sambil minta saya pulang. Tanpa dia jelaskan, pikiran saya langsung tercurah pada Fauzan. Saya yakin, anak saya pasti ada apa-apanya," ujar Suhaim.
Tanpa pikir panjang, Suhaim lantas melarikan sepeda motornya pulang ke rumah. Setiba di rumah, Suhaim harus menerima kenyataan pahit dengan tewasnya putra bungsunya tersebut.
(jri)