JAKARTA - Setiyardi, pengarang buku Hanya Fitnah dan Cari Sensasi, George Revisi Buku mengungkapkan dirinya bukanlah tandingan pengarang buku Gurita Ciekas George Junus Aditjondro.
"Pak George bukan tandingan saya,” kata mantan Wartawan Tempo ini saat peluncuran bukunya di Hotel Cemara, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/1/2010).
Meski demikian, Setiyardi mengaku bahwa buku itu dia buat untuk menandingi buku kontroversial George.
“Ini bukan “buku putih”, tapi covernya hitam. Tapi buku hitam tandingan Gurita Cikeas,” jelas Setiyardi.
Melalui buku setebal 31 halaman ini dia berharap dapat mengoreksi kesalahan buku George sekaligus sebagai sumber informasi alternatif kepada masyarakat.
Dia juga pernah menyatakan buku yang dilego dengan harga Rp15.000 itu bukan merupakan karya yang serius. Sebab, dia menyusunnya hanya dalam waktu sehari. Buku itu mulai ditulis mulai Sabtu 2 Januari lalu dan selesai keesokan harinya.
Dalam bukunya, Setiyardi membantah fakta yang diungkapkan George. Di antaranya seputar keberadaaan rekening Budi Sampoerna dan Hartati Murdaya yang mencapai miliaran rupiah di Bank Century. Keduanya merupakan penyumbang kampanye Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pemilu lalu.
Di bagian lain, Setiyardi juga menyebut George telah berimprovisasi dengan penggunaan kata terselubung, seperti “mungkin”. Sebagai contoh, kegiatan yayasan ini (Majelis Dzikir SBY Nurussalam) telah menelan dana yang sebagian mungkin berasal dari anggaran negara. Misalnya, dana untuk kegiatan zikir dan doa di Masjid Baiturrahim di Kompleks Istana Negara Jakarta di akhir 2007-2008 yang diikuti antara 3.000-4.000 jamaah.
Setiyardi juga mengungkapkan George seharusnya melakukan verifikasi atau setidaknya mampu menggunakan secara cermat logika berpikir. Misalnya, jumlah peserta dzikir di Kompleks Istana yang melibatkan 3.000-4.000 jamaah. Padahal, kapasitas Istana Negara hanya dapat menampung sekira 300 orang.(ton)
(mbs)