SOLO - Kendati ada sebagian korban banjir di Solo, Jawa Tengah sudah ada yang kembali ke rumahnya masing-masing, namun ada sebagian warga memilih bertahan di lokasi pengungsian. Mereka takut banjir kembali menerjang rumah mereka. Apalagi alat pendeteksi banjir yang terletak di Joyotakan, Solo rusak akibat banjir.
Kepala Kesbanglinmas Solo Suharso membenarkan masih adanya warga Solo di beberapa wilayah yang terkena banjir, seperti di Joyotakan, Sangkrah, Jebres, memilih bertahan di lokasi pengungsian. Pihaknya juga masih terus melakukan pemetakan jumlah pengungsi untuk memastikan distribusi bantuan lanjutan kepada para pengungsi.
"Memang ada sebagian warga korban banjir sudah berani kembali ke rumahnya masih-masing. Tetapi ada sebagian warga yang masih memilih bertahan di tempat pengungsian. Umumnya warga khawatir banjir kembali datang. Jadi mereka memilih bertahan di lokasi pengungsian," papar Suharso di kantornya, Senin (2/2/2009)
Hari ini, rencananya sebanyak 20,7 ton beras, serta kebutuhan lainnya siap didistribuskian kepada para korban banjir. Selain itu, untuk mengantisipasi korban banjir yang jatuh sakit, 17 Puskesmas di lima kecamatan di Solo dalam posisi siaga 24 jam. Sebab, pascabanjir akibat luapan sungai Bengawan Solo yang masuk ke sungai-sungai kecil, banyak korban banjir yang menderita penyakit gatal-gatal dan perut.
Lebih lanjut menurut Suharso, dalam menangani korban banjir di Solo, tidak ada kendala sama sekali. Termasuk pendistribusian semua kebutuhan para korban banjir. Yang menjadi kendala Pemkot Solo adalah relokasi warga yang tinggal di bantaran sungai. Sebab, warga yang tinggal di bantaran sungai tetap menolak untuk dipindahkan. Padahal kerusakan di bantaran sungai akibat banyaknya rumah penduduk cukup parah.
Ini terlihat dari jebolnya talud di sungai Pepe. Padahal apabila talud ini tidak segera dibenahi, banjir besar seperti yang terjadi pada tahun 1966 dapat terulang kembali.
(M Budi Santosa)