JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara soal kemacetan di Jakarta yang kian parah belakangan ini. Sejumlah solusi ditawarkan, termasuk wacana pemindahan Ibukota.
Ada tiga solusi yang ditawarkan Presiden. Pertama, membangun segala prasarana dan sarana transportasi yang baru baik di permukaan, di bawah permukaan, maupun di atas permukaan tanah.
"Kedua, kita bisa membandingkan dengan apa yang dilakukan Malaysia. Ibukota Malasyia tetap KL tapi pusat pemerintahan di Putrajaya. Dipisahkan, cut off. Tetapi tentu ada komunikasi yang baik. Berkembanglah PutraJaya," katanya di Jakarta Convention Center, Jumat (3/9/2010).
Ketiga, Presiden juga membuka kemungkinan untuk membangun Ibu Kota yang baru. "The real capital, the real govement center. Seperti Canberra, Brazilia, Ankara dan tempat-tempat yang lain," tegasnya.
Ketiga opsi tersebut, kata dia, memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
"Kalau kita putuskan sekarang ini, misalnya opsi kedua dan tiga kita membangun pusat pemerintahan baru maka 10 tahun dari sekarang baru bisa dilakukan berdirinya pusat pemerintahan yang baru yang sudah terencana dengan desain yang bagus dan memenuhi syarat-syarat sebagai pemerintahan yang baik," katanya.
Presiden mengakui opsi kedua dan ketiga terbuka dan dia telah memikirkannya diam-diam meskipun tak setiap saat berbicara kepada pers.
"Karena ini fundamental itu diperlukan kesepakatan bersama baik itu pemerintah, parlemen dan semua kalangan masyarakat, mana yang kita pilih. Opsi satu, dua atau tiga," ujarnya.
(Dede Suryana)