PADANG - Plak...! Suara keras terdengar dari sebuah pondok kecil beratap rumbio berlantai bambu. Suara tawa empat lelaki membahana di Pulau Sibigeu diiringi hujan lebat dan bunyi petir.
"Balak enam sudah mati, hahaha...sudah terkunci," kata lelaki paruh baya. "Bagaimana mandan ini kok balak enamnya dibunuh, matilah tidak bisa menang ini," jawab pemuda yang lebih mudah dari lelaki yang tertawa pertama.
Keempat pemuda itu ternyata mengisi waktu main domino, tak bisa mereka melaut karena hari hujan dan badai. Pulau Sibigeu terletak di depan Dusun Erukparaboat, Desa Malakkopa, Kecamatan Pagai Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Empat pemuda yakni Daud (20), Darmen (25), Darman (30), dan Marjalius (40), tak bisa melaut pada malam hari karena cuaca laut buruk. Sambil mengobati kesuntukkan mereka main domino sambil mengopi dan berbagi pengalaman.
Namun secara mendadak, lantai rumah langsung menggoyang, bunyi derak pondok makin kuat seakan mau ambruk. Keempat pemuda itu langsung berlarian keluar pondok sambil tiarap. "Tubuh kami tidak bisa berdiri, kepala kami pusing dibuatnya. Kepala Darmen hampir tertimpa buah kelapa yang jatuh," cerita Marjalius.
Gempa kuat yang menggoyang, kata Marjalius lamanya sekira tiga menit. Kemudian tiga pemuda menyuruh Daud melihat pantai sambil berlari. "Jarak pantai dari pondok kami ada 50 meter, dengan tersengal-sengal Daud kembali ke pondok dan mengabarkan air laut telah susut, Amagarak an oinan! (air laut surut)," kata Marjalius sambil menirukan Daud.
Baru satu menit Daud sampai di pondok dan mengabarkan air laut susut, dari tengah laut suara menggelegar dan bergemuruh. "Rasa takut dan menggigil kami lari terbirit-birit lari ke daerah perbukitan yang ada di Pulau Sibigeu. Jaraknya ada sekitar satu kilometer," tuturnya.
Sekira 500 meter mereka lari dari pondok, kakinya tersandung akar kayu. Dia pun terbanting dan jatuh pinggulnya beradu dengan pinggul kayu. Suara menggelegar makin dekat, pinggulnya sudah kesakitan. Tiga temannya tadi meninggalkannya dalam kondisi yang lemah, dia melihat kayu-kayu besar patah.
"Patahan kayu itu suara memekakkan telinga dicampur gemuruh gelombang sudah mulai dekat," kisahnya saat menemani saudaranya di RSUP DR. M. Djamil Padang, Selasa (16/11/2010)
Sisa kekuatan yang dihimpunnya bercampur tubuh yang menggigil ketakutan memanjat batang kelapa setinggi 10 meter. "Sekuat tenaga saya usahakan memanjat batang kelapa milik warga Beleraksok setinggi 10 meter," ujar Marjalius.
Dari pucuk kelapa itu ia melihat jelas sumber suara gemuruh itu. Batang kayu berdiameter besar bertumbangan setelah gelombang besar itu menabraknya, ada yang pecah, ada yang patah ada pula yang tercabut dari tanah, pohon kelapa saja tercabut. "Sangat mengerikan, itulah kata yang bisa katakan," ujarnya.
Di atas pucuk pohon kelapa itu, dia menyabung nyawanya. Menurut dia gelombang besar itu datang setinggi empat meter, beberapa waktu kemudian tinggi ombak menjadi 12 meter. Marjalius di atas pohon itu tergoyang-goyang saat gelombang terakhir menerjang tubuhnya.
Umur panjang masih menyertai Marjilus. Kelapa sebagai penyelematnya tidak tercabut dari rumpunnya. "Kelapa tempat saya memanjat itu jarak dari pantai sudah 500 meter. Pokoknya gelombang yang datang itu sangat mengerikan, kelapa-kelapa tingginya tujuh meter tenggelam,” ujarnya.
Ia langsung turun dari batang kelapa kemudian pergi ke bukit mencari kawan-kawannya lari. "Akhirnya kami bertemu, masih malam itu kami turun dan menuju pantai melihat perahu kami dan pakaian kami, ternyata sudah hilang perahu kami sudah hancur. Kami sempat bertemu dua orang teman yang selamat di Pulau Sibigeu,” katanya.
Meski istri dan anaknya tidak kena tsunami karena posisi rumah mereka diatas bukit, tapi udang hasil tangkapan mereka selama seminggu sudah hilang. "Berharap uang untuk beli baju baru anak pada Natal hilang terkena gelombang besar," katanya.
Pulau Sibigeu merupakan daerah yang sangat dekat dengan pusat gempa 7,2 SR, daerah itu dijadikan warga Belekraksok sebagai kebun kelapa sebagai komoditi masyarakat setempat. Tapi setelah tsunami ribuan batang kelapa patah, tumbang ini mengancam kehidupan ekonomi masyarakat setempat.
(TB Ardi Januar)