TOKYO - Jepang merencanakan penarikan pasukannya yang saat ini menjalani tugasnya di bawah payung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Dataran Tinggi Golan. Negeri Sakura mulai khawatir akan meningkatnya eskalasi konflik di negara Arab itu.
Jepang menempatkan 47 pasukan di perbatasan Israel dan Suriah, namun konflik internal Suriah makin memanas dan menyebar hingga Golan. PBB sudah mengatakan, mereka akan meningkatkan kehadiran pasukan perdamaiannya (UNDOF) untuk melindungi para pemantau, tetapi Jepang tetap akan menarik pasukan.
Seperti diberitakan Yomiuri Shimbun, Selasa (11/12/2012), Pemerintah Jepang memilih untuk melindungi keselamatan pasukannya. Oleh karena itulah, ke-47 pasukan beladiri Jepang akan dipulangkan.
Meski serangan mortar terus melesat di wilayah Golan, tidak ada pasukan Jepang yang terluka atau tewas dalam serangan itu. Para pemantau PBB juga sempat diancam karena mereka menyediakan bantuan medis untuk pasukan Suriah yang terluka akibat peperangan dengan fraksi oposisi.
Pasukan Pemantau Gencatan Senjata PBB (UNDOF) yang saat ini berdinas di Suriah dibentuk pada 31 Mei 1974 silam lewat Resolusi Dewan keamanan PBB 350. Pembentukan pasukan itu dilakukan atas kesepakatan gencatan senjata Israel dan Suriah yang memperebutkan Dataran Tinggi Golan pada Perang Yom Kippur 1973.
Tujuan utama UNDOF adalah memastikan gencatan senjata yang sudah berjalan puluhan tahun itu tetap dipatuhi. Mereka pun terus meninjau ulang kesepakatan dua pihak itu lewat badan-badan PBB.
(Aulia Akbar)