Kemungkinan selanjutnya, kata Nasef, bisa jadi perpecahan itu muncul sebagai cerminan dari sikap konsisten beberapa kader PDIP yang pada rezim sebelumnya menolak keras kenaikan harga BBM.
"Ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Boediono dulu berencana menaikkan harga BBM, PDIP lah partai yang paling keras menentangnya," tegasnya.
Kemudian, kemungkinan terakhir adanya perpecahan di internal PDIP karena bentuk kekecewaan sejumlah kader PDIP yang tidak mendapatkan 'jatah' di kabinet.
"Sejumlah nama kader PDIP sebelumnya digadang-gadang akan menduduki posisi kementerian di Kabinet Kerja Jokowi-JK. Akan tetapi realita berbicara lain, mungkin itu yang menjadikan sebagian kader kecewa yang berdampak pada mulai munculnya faksi di partai itu," tutupnya.(fid)
(Dede Suryana)