Tradisi Perang Lumpur Usai Nyepi ala Pemuda Bali

Rohmat, Jurnalis
Senin 23 Maret 2015 01:00 WIB
Share :

DENPASAR - Para pemuda di Desa Kedonganan, Kecamatan Kuta, Badung, Bali menggelar tradisi unik usai perayaan hari Nyepi lewat perang lumpur.

Tradisi ini sarat dengan makna filososi sebagaimana diterangkan Humas Pemuda Eka Chanti, I Made Sudarsana bahwa aksi saling lempar lumpur itu turun temurun. Kata dia, perang lumpur itu dikenal dengan tradisi mebuug-buugan berasal dari kata Buug yang artinya tanah atau lumpur. "Mebuug-buugan berarti interaksi dengan menggunakan tanah atau lumpur," ulas Sudarsana, Minggu (22/3/2015)

Menariknya, tradisi ini sejatinya telah vakum selama 60 tahun dan mulai Nyepi tahun ini kembali dihidupkan. Awalnya, kawula muda di wilayah itu mencoba meneliti dan membangkitkan kembali tradisi itu dan mendapat respons positif tokoh masyarakat setempat.

Sudarsana mengungkapkan, tujuan tradisi itu tak lain untuk menetralisir hal-hal atau sifat buruk. Jadi, mebuug-buugan itu manusia divisualisasikan sebagai tanah atau lumpur sebagai wujud Bhutakala. "Kekotoran yang melekat pada manusia itulah yang harus dibersihkan," jelasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya