Tradisi Perang Lumpur Usai Nyepi ala Pemuda Bali

Rohmat, Jurnalis
Senin 23 Maret 2015 01:00 WIB
Share :

Karenanya, pihaknya berharap tradisi di desanya bisa segera dicatatkan ke Dinas Kebudayaan sehingga tetap bisa dilestarikan. Konon, dalam tradisi itu, semua pesertanya bugil atau telanjang bulat. Lantaran, menuai kontroversi dan anak muda malu akhirnya mengalami kemandegan sosial.

Keberadaannya pun hilang seiring waktu. Meski pernah dibangkitkan kembali namun tetap belum bisa menemukan eksistensinya.

Hal sama disampaikan Ketua Karang Taruna Eka Chanti, I Wayan Yustisia Semarariana yang menyambut positif kreativitas anak muda di wilayahnya dalam upaya melestarikan warisan leluhur. "Tentu saja, kami senang tradisi ini diinisiasi kembali nantinya akan terus disosialisasikan kepada generasi muda lainnya," sambungnya.

Pihaknya berharap, tradisi ini bisa terus terjaga dengan baik karena sebenarnya sarat dengan nilai historis dan filosofisnya. Tidak hanya itu, di masa mendatang dengan kemasan yang lebih menarik bukan tidak mungkin warisan budaya leluhur iti bisa menjadi ikon Desa Adat Kedonganan.

Dalam perang lumpur itu, semua pesertanya adalah kaum laki-laki semua usia mulai anak-anak sampai orang tua. Dengan bertelanjang dada, mereka menggunakan kain khas Bali yang dilipat untuk menutup bagian terlarang. Mereka berperang bersama-sama dengan menggunakan lumpur saling lempar dalam suasana keceriaan dan kebersamaan.

(Muhammad Saifullah )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya