GARUT – Dedi Hermawan (40) seorang petani di Garut memutuskan untuk tidak memanen tomat di kebunnya karena harga jual terlalu rendah dan tidak sebanding dengan ongkos angkutnya.
Menurut dia, harga jual tomat saat ini sedang menukik tajam, hanya sekitar Rp300 per kilogram. Sedangkan ongkos angkut dari kebun ke tengkulak atau bandar yang harus ditanggung petani sekira Rp500 per kilogram.
"Itu ongkos angkut saja, padahal untuk menanam itu kalau dihitung-hitung sudah habis Rp3.000 per pohon," katanya.
Dari pada menanggung lebih banyak rugi, Dedi memutuskan untuk membuang tomat-tomatnya yang sudah masak.
"Ada sekitar 20 ton, dibuang, tidak dipanen sudah saja ditinggal di kebun. Nanti kalau olah lahan, ya tanamannya dicangkul lagi. Kalau petani sih risiko, paling punya utang ke kios, dia sih udah maklum. Kalau enggak tanam lagi mau kerja di mana?" ujarnya.