BLITAR- Siang itu amarah penyair dan juga aktivis Aliansi Pelangi Blitar menggurat jelas. Tatap matanya berubah beringas. Suaranya tiba-tiba meledak keras saat memasuki diksi.
"Tersungkur seorang petani. Karena tanah adalah tanah. Tanah dan darah memutar sejarah. Dari sini nyala api. Dari sini damai abadi,”
Di atas trotoar jalan depan kantor DPRD Kota Blitar di bawah sengat terik matahari. Penyair itu mengepalkan tinju kiri dan mengacungkannya.
Sorot matanya semakin garang. Ada gumpalan api dendam yang harus terbalaskan. Dendam sesama kawan perjuangan.
Seperti dibekap sihir. Suasana mendadak hening. Puluhan pasang mata aktivis petani, sosial, antikorupsi, penggiat pluralisme dan mahasiswa Blitar tertuju ke arahnya.
Dengan berapi api ia tuntaskan bait puisi "Matinya Petani" karya Agam Wispi penyair eksil bekas sastrawan Lembaga Kesenian Rakyat.
Puisi ini untuk mengenang peristiwa penggusuran petani Tanjung Morawa. Puisi yang pernah dilarang penguasa Orba.
"Mereka berkata yang berkuasa. Tapi merampas rakyatnya. Mesti turun tahta sebelum dipaksa".
Hari ini karya realisme sosialis itu kembali mengudara untuk Salim Kancil, aktivis petani Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang yang dibunuh oleh kekuasaan.
Teriakan merdeka sontak sahut bersahut membahana. Penyair itu memungkasi puisi dengan teriakan lawan. Lawan segala ketidakadilan yang menggilas nasib petani kecil.
"Kasus Salim Kancil harus diusut tuntas sampai ke akar-akarnya. Bila tidak akan muncul korban Salim Salim lain, tidak terkecuali di Blitar," ujar Jaka Wandira selaku korlap aksi solidaritas untuk Salim Kancil, Sabtu (3/10/2015).
Sebuah spanduk bertuliskan "Pitung Dinoan (tujuh hari) Syuhada Lingkungan Salim Kancil" menjadi latar belakang mimbar trotoar.
Di sebelahnya terpampang spanduk bertuliskan warna biru "Di Tanah Kami Nyawa Tak Semahal Tambang" dan warna merah "Salim Kancil Dibunuh".
Jargon dan gambar lelaki dalam kondisi tangan terikat, terkapar dan mati itu memang lagi populer di seluruh media sosial dan surat kabar mainsteram.
Ya, hari ini puluhan aktvis Blitar menggelar aksi solidaritas memperingati tujuh hari kematian Salim Kancil. Tidak hanya berorasi. Para aktivis juga bergantian berdeklamasi membaca puisi.
Menurut Jaka, kasus pertambangan yang berpotensi sengketa antara pemilik modal dan masyarakat juga terjadi di Kabupaten Blitar.
Ia menyebut kaolin dan pasir besi yang tengah diekploitasi besar-besaran sedang terjadi di wilayah Jebring, Desa Ngadipuro, Kecamatan Wonotirto dan Pasur, Kecamatan Bakung.
Selain mempertanyakan izin, eksplotasi di kawasan Blitar selatan tidak melibatkan masyarakat lokal setempat. Tidak ada warga yang dijadikan pekerja.
Informasi yang dihimpun, investor yang mengelola berasal dari negara Cina. Karenanya meski masyarakat setempat gigih menolak, tapi Pemkab Blitar kukuh mengeluarkan izin.
"Tambang pasir besi di jalur lintas selatan ini merupakan yang terbesar di dunia setelah Selandia Baru dan Meksiko yang menyebabkan kerusakan,” jelasnya.
Ada limbah titanium yang bernilai lebih tinggi dari pasir besi. Fakta itu, kata Jaka, tidak pernah diungkap ke publik.
Alasan itu juga yang membuat oknum pemerintah, aparat dan pemilik modal terus bersekongkol mengekspolitasi alam sebesar-besarnya.
"Kita mendesak seluruh pertambangan pasir besi, kaolin dan pasir di Kabupaten Blitar untuk ditutup. Kita tidak ingin terjadi kasus seperti di Lumajang,” pungkasnya.
Untuk menjaga suasana aksi tetap dinamis, lagu-lagu bertema lingkungan seperti ‘Nggak Perawan’, ‘Birokrasi Komplek’ dari Slank,’Berita Kepada Kawan’, Gombloh dan sejumlah lagu karya Iwan Fals dikumandangkan.
Para aktivis juga menggalang dana dengan menjajakan kaus bertema Salim Kancil. Hasil penjualan akan didonasikan kepada keluarga Salim Kancil dan Keluarga Tosan, yakni petani juga korban penganiayaan yang saat ini masih dirawat di RSU Syaiful Anwar Malang.
"Sampai sore menjelang petang ini hasil penggalangan dana sebesar Rp430 ribu. Kita akan terus melakukan penggalangan. Dan akan kita donasikan langsung kepada keluarga Salim Kancil dan Tosan," tambah Mahathir Muhammad.
Aksi solidaritas tujuh hari kematian Salim Kancil ini ditutup dengan pembacaan doa tahlil bersama.
"Kami menganggap Salim Kancil adalah Syuhada Lingkungan. Semoga Khusnul Khotimah, "pungkas Mahathir.
Seperti diketahui kasus pembunuhan aktivis petani Salim Kancil telah menarik perhatian seluruh pemangku kekuasaan. Bahkan Presiden Joko Widodo telah meminta Polri untuk menuntaskan kasus ini.
Dalam perkembangan Kepala Desa Selok Awar Awar telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun diduga masih ada aktor intelektual yang belum terungkap sepenuhnya.
(Muhammad Sabarudin Rachmat (Okezone))