Pesan kepada presiden Joko Widodo. Nama sana Chanee. Saya berasal dari Eropa tapi sudah tinggal 17 tahun di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Saya sangat bangga menjadi warga negara Indonesia tiga tahun yang lalu, karena saya sungguh-sungguh mencintai Indonesia.
Tetapi Bapak Presiden, izinkan saya, untuk menyampaikan hari ini kemarahan saya. Saya marah tidak hanya karena anak saya kena ISPA seperti ratusan anak lain. Saya marah tidak hanya ribuan orang sesak nafas dan mengangis sambil berdoa dapat melihat matahari lagi. Saya marah tidak hanya karena alam dan hutan Kalimantan dihancurkan.
Bapak Presiden, saya marah karena semua penderitaan ini, dibuat demi industri kepala sawit. Keputusan pemerintah sebelumnya dan keputusan pemerintah yang sekarang dengan sengaja menimbulkan masalah ini setiap tahun dan diperparah tahun ini dengan elnino.
Di dalam Kota Madya Palangkaraya saja, dari awal Bulan Juni tahun ini, saya sudah ilustrasikan dari udara, puluhan kebakaran lahan demi ekspansi perkebunan kepala sawit.
Pada saat itu, pada saat asap belum menjadi berita, semua titik api dapat dipadamkan. Tetapi itu tidak terjadi. Helikopter pemadam datang dua bulan kemudian, petugas-petugas di lapangan sekuat-kuatnya mereka tidak bisa berbuat banyak saat api sudah menjadi besar di lahan gambut.