Stasiun Sleko
Bekas rel jalur kereta api jurusan Madiun-Ponorogo sulit terpantau setelah dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun karena telah terdesak oleh bangunan-bangunan permanen. Berdasarkan informasi yang diperolehMadiunpos.com, rel jalur kereta api dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Madiun terus lurus hingga melewati sekitar Pasar Sleko, Kelurahan Pandean, Kecamatan Taman.
Pengayuh becak di Pasar Sleko, Sayeran, 50, menyebut bangunan rumah makan dan karaoke Kiss di sebelarng Pasar Sleko atau Jl. Trunojoyo merupakan bekas Stasiun Sleko. Laki-laki kelahiran Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, tersebut mengaku pernah naik kereta api semasa anak-anak dari Stasiun Sleko.
“Bangunan Stasiun Sleko sekarang sudah tidak ada, berubah menjadi pertokoan bertingkat seperti ini. Sayang sekali kan? Banunan pertokoan ini sekarang malah sudah tidak lagi digunakan. Pengusaha rumah makan dan karaoke ceritanya mengalami bangkrut,” kata Sayeran kepada Madiunpos.comdi sekitar Pasar Sleko, Minggu siang.
Rawan Kecelakaan?
Sementara itu, pengelola laman Dolanwae.wordpress.com yang memuat banyak hal terkait sejarah kereta api Indonesia, Tinthony Rizan Ghani, menilai bekas jalur rel di tengah Kota Madiun telah lenyap karena tertimbun aspal jalan yang disebabkan proyek pelebaran jalan. Selain itu, lanjut dia, rel jalur kereta yang berada di pinggir atau sedikit lebih ke tengah jalan tergusur atau dimatikan karena dianggap sebagai penyebab kemacetan dan rawan kecelakaan.
“Untuk bekas halte sendiri kemungkinan telah hilang jauh sebelum jalur ini mati, karena pada foto tahun 70-an yang sempat saya lihat menunjukkan bahwa jalur tersebut memang sudah penuh dengan bangunan pertokoan, sehingga tidak mudah bangunan sekelas halte dipertahankan untuk hidup,” terang Tinthony Rizan Ghani yang gemar melacak sejarah Madiun itu.
(Amril Amarullah (Okezone))