Sepenggal Kisah Veteran Pengibar Bendera AS di Iwo Jima

Silviana Dharma, Jurnalis
Rabu 24 Februari 2016 07:00 WIB
Barret menunjukkan peta lokasi Iwo Jima di rumahnya. (Foto: The Register Guard)
Share :

Operasi Detasemen yang dirancang Paman Sam di Iwo Jima merupakan salah satu pertempuran paling berdarah dan tersengit dalam sejarah Perang Pasifik Perang Dunia II. Lebih dari 22.000 pasukan Jepang meninggal dunia, 200 di antaranya ditangkap hidup-hidup.

Pihak AS juga menderita kerugian yang tak kalah besasrnya, dengan 6.800 pasukan meregang nyawa dan sedikitnya 18.000 tentara AS lainnya terluka dalam invasi pertama negeri adidaya ke daerah kekuasaan negeri matahari tersebut.

“Kami mencapai pantai, berjalan turun ke bawah, dan yang bisa kami lihat hanya asap dan bentangan pasir vulkanik hitam di sepanjang daratan. Rasanya seperti memasuki The Fury of Pure Hell (tempat yang benar-benar buruk dan seperti neraka). Tidak ada satupun tempat untuk bersembunyi,” tulis Barret empat tahun lalu mengenai pengalaman pertamanya mendarat di Iwo Jima.

Barret ingat dengan jelas bagaimana ia menghabiskan waktu kurang lebih sebulan untuk berlayar dari Hawaii ke Asia. Kala itu ia bersiap menuju Iwo Jima sebagai bagian dari resimen ke-27, divisi 5 pasukan AL AS.

“Tidak ada pantai di sana, semuanya hitam akibat abu volkanik. Kontur daratannya sangat menakutkan. Pulau itu gundul seperti piring koleksi gereja, yang dikeluarkan tiap Sabtu malam. Tidak ada tempat untuk pergi maupun bersembunyi. Membangun lubang perlindungan juga tidak mudah, karena segera setelah Anda menggalinya, tanah itu akan jatuh menimpa Anda,” sambungnya.

Sementara posisi tentara Jepang di teritorinya itu sudah sangat strategis. Mereka memiliki bunker-bunker yang saling terhubung, artileri tersembunyi dan terowongan bawah tanah sepanjang 18 kilometer.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya