Ketika masuk ke dalam cafe tersebut, rumah sempit itu dijadikan tempat joget pada tamu. Di dalam, terlihat ada sebuah televisi berukuran 32 inci, lima sofa dengan dilengkapi empat meja, serta satu meja kayu dengan kursi plastik yang ditumpuk siap menyambut tamu.
Adapun para tamu telihat sedang asik memekikan suaranya bergantian menyanyikan musik dangdut dari televisi dengan sound khusus. Ada juga yang berjoget seraya ditemani para wanita yang telah dibokingnya.
“Kalau di sini nyanyinya gantian, mic-nya soalnya cuma ada satu. Kalau duet ya harus deket-deketan sama ceweknya,” kata wanita yang mengaku berasal dari Bandung, Jawa Barat tersebut.
Sedangkan untuk tamu yang sudah ‘kebelet’, Papi Jamal, sang pemilik kafe, telah menyediakan tujuh kamar untuk ‘melepas penat’ bagi para tamu yang datang dari berbabagai kalangan.
“Kalau mau ‘begituan’ di kamar cewek masing-masing, sewa lagi kamarnya gocap (Rp50 ribu). Nah kalau kamar bayar langsung ke kasir, kalau untuk cewek bayar langsung ke ceweknya,” kata wanita berparas ayu itu.
Sejumlah perempuan di lokalisasi Dadap mengakui dirinya mengetahui soal rencana penggusuran pada akhir Mei 2016 mendatang. Mereka juga tahu tanah di sana adalah tanah negara, sehingga jika digusur kemudian, mereka tidak akan mempermasalahkan hal itu.
“Ini kan tanah ilegal, ya. Kalau digusur ya sudah, mau gimana lagi. Kan ada undang-undangnya,” kata PSK lainnya bernama Vivi.