JAKARTA – Sekira 40,9 juta jiwa terpapar ancaman longsor, termasuk di antaranya 4,28 juta jiwa balita, 323 ribu jiwa disabilitas, serta 3,2 jiwa juta lansia. Angka tersebut mencapai sekira 17,2 persen penduduk Indonesia.
Hal itu seperti disebutkan Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho melalui keterangan tertulisnya kepada Okezone. Ia menyatakan, semua terpapar longsor saat musim hujan. Sebagian dari penduduk yang terancam itu juga tak memiliki kemampuan untuk memproteksi diri dari longsor.
“Bahkan masih banyak masyarakat yang tidak paham antisipasi mengenai longsor. Mitigasi bencana, baik struktural maupun non struktural masih sangat minim sehingga setiap musim penghujan longsor mengancam jiwa dan harta milik masyarakat,” papar Sutopo, Rabu (16/11/2016).
Ia menjelaskan, daerah rawan longsor sudah dipetakan dan dibagikan kepada seluruh Pemda. Bahkan, ia melanjutkan, PVMBG Badan Geologi menyusun peta prediksi longsor bulanan sesuai ancaman curah hujan yang akan terjadi.
“Peta tersebut juga dibagikan ke Pemda dan dapat diunduh di website PVMBG disertai tabel penjelasan daerah-daerah kecamatan yang rawan longsor tinggi, sedang, hingga rendah. BNPB juga telah mengembangkan peta risiko bencana longsor yang memuat peta bahaya, kerentanan dan kapasitas. Namun, peta tersebut sebagian besar belum menjadi dasar dalam penyusunan dan implementasi rencana tata ruang wilayah,” paparnya.
Sutopo menyatakan, daerah rawan longsor sehingga harus dibatasi peruntukannya. Penataan ruang adalah upaya yang paling efektif untuk mencegah korban longsor.
Sekadar diketahui, empat orang tewas akibat longsor di Jalan Kolonel Masturi, RT 07/06, Kampung Keramat Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Bandung, pada Selasa (15/11/2016).
Berdasarkan data sementara, Sutopo mengatakan, secara nasional hingga Rabu (16/11/2016) terdapat 487 bencana longsor yang menyebabkan 161 orang tewas, 88 orang luka, 38.092 orang menderita dan mengungsi dan ribuan rumah rusak.
Sementara itu, ia menuturkan, bencana longsor setiap tahun cenderung meningkat dalam 10 tahun terakhir. Pada 2007, terdapat 104 kejadian, tahun 2008 (112 kejadian), 2009 (238), 2010 (400), 2011 (329), 2012 (291), 2013 (296), 2014 (600), dan 2015 (515).
“Selama 10 tahun terakhir terdapat 3.372 kejadian longsor di Indonesia yang menimbulkan korban jiwa 1.685 orang tewas, 1.657 jiwa luka-luka, 443.998 jiwa menderita dan mengungsi, dan lebih dari 22.000 rumah rusak akibat longsor,” ucapnya.
Kemudian, ia mengatakan, korban tewas pun cukup besar. Pada 2007 terdapat 93 orang tewas, 2008 (102), 2009 (76), 2010 (266), 2011 (171), 2012 (119), 2013 (190), 2014 (372), dan 2015 (135).
(Erha Aprili Ramadhoni)