JAKARTA – Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Indonesia, Seto Mulyadi atau akrab yang dipanggil Kak Seto menjelaskan, motif kejahatan penculikan anak yang kerap terjadi. Untuk itu, para orangtua dan masyarakat di lingkungan sekitar harus mewaspadai serta menjaga anak-anak dari intaian predator anak-anak atau pelaku kejahatan anak.
"Motifnya bisa karena uang, pemerasan, mungkin juga dendam, mungkin masalah politik, mungkin juga eksploitasi seksual jadi di-shot kemudian diunggah melalui media sosial dari situ juga bisa mendapatkan dana dari jaringan internasional, seperti kemarin pornografi online, kemudian perdagangan anak sampai kepada diambil organ tubuhnya untuk diperdagangkan," papar Kak Seto kepada Okezone, Senin (27/3/2017).
Sebelumnya, tersiar kabar yang tersebar melalui pesan singkat berantai dan media sosial terkait penculikan anak. Bahkan, ada juga yang menuliskan di medsos untuk satu anak dihargai Rp5 miliar. Dari gambar yang beredar itu, dipasang tarif atau harga untuk masing-masing organ tubuh anak. Di antaranya, sepasang bola mata dihargai Rp14 juta, ginjal Rp 2,4 miliar, organ hati anak diberi harga Rp1,4 miliar, kulit anak dihargai Rp91 ribu per inci persegi. Bahkan, kulit kepala anak juga dihargai hingga Rp5,56 juta.
Menanggapi hal itu, Kak Seto mengimbau pihak keluarga tidak abai terhadap anak-anak karena hal tersebut yang memicu si anak untuk tidak betah berada di rumah dan bergaul dengan lingkungan luar yang tidak ia kenal atau ketahui sebelumnya, yang dapat mengundang para predator anak-anak untuk menjalankan modus operasi kejahatannya dengan begitu leluasa.
"Di mana keluarga yang penuh kekerasan, keluarga abai yang tidak peduli itu membuat anak tidak nyaman di dalam rumah akhirnya dia tertarik keluar sehingga dari bujuk rayu baik secara langsung maupun melalui media online," ucapnya.
Kak Seto mencontohkan anak-anak yang aktif di media sosial seperti Facebook sangat rentan terjaring modus kejahatan anak. Sebab, melalui Facebook tiba-tiba anak bersahabat, kemudian diajak bertemu, tahu-tahu langsung dibawa kabur oleh penculik anak.
"Itu kan sekarang sangat mudah terjadi karena ya si anak tidak nyaman, tidak ada komunikasi dengan orangtua. Banyak kasus keluarga-keluarga yang anaknya keluar pergi sebentar pamitnya sama temen Facebook-nya tahu-tahu hilang. Itu sudah cukup banyak," terangnya.
(Erha Aprili Ramadhoni)