Mendapati besarnya biaya tersebut, Aspin sempat meminta keringanan biaya. Namun, pihak RSUD M Yunus tidak bisa memberikan keringanan biaya.
''Saya sempat meminta keringanan. Namun, hal tersebut sama sekali tidak ada respons,'' aku Aspin.
Lantaran biaya jasa mobil ambulans mencapai jutaan rupiah, cerita Aspin, ia menjadi panik lantaran anaknya tidak bisa dibawa pulang ke kampung halamannya yang berjarak tempuh tidak kurang dari enam jam dari Kota Bengkulu.
Karena panik bercampur sedih, ia mencari akal agar anaknya bisa dibawa pulang dan dimakamkan pada hari itu. Ia pun memutuskan menggunakan jasa angkutan umum atau jasa travel.
Namun, Aspin berpikir, pihak jasa angkutan tak ingin mengizinkan untuk membawa jenazah. Dengan terpaksa, ia memasukkan anaknya ke tas pakaian plastik untuk mengelabui sopir angkutan.
''Tas platik itu kami beli dahulu di luar rumah sakit. Waktu itu uang saya tinggal Rp50 ribu lagi. Makanya saya memutuskan menggunakan jasa angkutan umum mobil travel,'' sampai Aspin.
''Jika saya bilang kepada mobil membawa jenazah, saya berpikir itu tidak akan diizinkan oleh sopir. Makanya keputusan dengan rasa terpaksa anak saya itu saya masukkan ke dalam tas pakaian,'' cerita Aspin dengan nada sedih.
Saat di dalam mobil, Aspin memangku tas berisi alm Puti Putri. Ia berbohong dengan menyatakan tas yang dibawanya berisi kue pengantin kepada sopir travel agar tak menempatkan tas di dalam bagasi. Atas pengertian dari sopir travel, tas berisikan jenazah anaknya tersebut diperbolehkan dipangku.