Saban bulan, satu hingga dua kantong darah harus ditransfusi ke tubuhnya. Gunanya untuk menambah kembali kekurangan hemoglobin. "Setelah transfusi darah sudah seperti biasa lagi, bisa lakukan aktivitas lagi," cerita Indah.
Hingga kini diketahui memang belum ada obat yang ampuh untuk menyembuhkan thalasemia. Cara bagi pengidapnya bisa bertahan salah satunya adanya dengan rutin transfusi darah.
Di Aceh, hingga 2017, sedikitnya terdapat 300 lebih penderita thalasemia. Mereka tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Bumi Serambi Makkah. Seiring banyaknya thalesemia maka kebutuhan darah pun meningkat.
Beruntung, sejak 24 April 2012, sebuah komunitas sosial fokus terhadap pengidap thalasemia di Aceh hadir. Nama komunitasnya Darah untuk Aceh (DUA). Pendirinya Nurjannah Husien alias Nunu, sukarelawan yang berdomisili di Banda Aceh. Adanya DUA memberi harapan baru bagi Indah dan para theller–sebutan untuk pengidap thalesemia- lainnya.
Sejak dibentuk, komunitas ini gencar membantu mendapatkan sumbangan darah bagi penderita thalasemia. Mereka menyasar anak-anak muda untuk menjadi pendonor darah atau blooder, mengajak mereka menjadikan donor darah bagian dari gaya hidup.
Di tahun-tahun awal terbentuk, nyaris setiap hari anggota komunitas DUA termasuk Nunu berada di Unit Pelayanan Transfusi Darah PMI Banda Aceh. Tujuannya, mendampingi para blooder saat mendonor darah untuk diberikan kepada thaller. Aksi ini dilakukan terus menerus.