Mengungkap Misteri Pembangunan Situs Prasejarah Stonehenge

, Jurnalis
Selasa 08 Agustus 2017 00:12 WIB
foto: english-heritage.org.uk
Share :

SEIRING penelitian para arkeolog tentang Stonehenge, beragam misteri muncul. Tapi satu kisah yang masuk akal perlahan mencuat.

Stonehenge merupakan atraksi turisme di Inggris yang paling sering dikunjungi wisatawan dan salah satu peninggalan masa lalu yang paling misterius. Turis datang dari seluruh penjuru dunia untuk memandangi pilar-pilar batu ikonik itu, lalu mengajukan pertanyaan: mengapa dan bagaimana batu-batu itu menjadi sedemikian rupa.

Situs wisata itu mungkin mudah dikenali, tapi ada hal lain dari apa yang dapat ditangkap mata. Seiring arkeolog mempelajari Stonehenge, beragam misteri menyeruak, tapi sebuah kisah yang logis perlahan muncul.

Para peneliti kini tidak hanya mendalami Stonehenge sebagai situs tunggal, tapi juga area yang melingkupi monumen itu. Mereka berharap mendapatkan petunjuk dari bentang alam di sekitar situs prasejarah tersebut.

Pemetaan bawah tanah dan eskavasi menyingkap fakta bahwa Stonehenge pernah menjadi bagian dari jejaring yang rumit: gundukan makam purba, pemukiman yang tak teridentifikasi, jalur kirab dan bahkan kuburan berhias emas.

Temuan itu menggambarkan situasi yang lebih misterius, serta mengelaborasi era neolitikum dan zaman perunggu, dibandingkan yang selama ini diperkirakan.

Proyek yang meneliti Stonehenge secara menyeluruh adalah Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, digelar dari 2010 hingga 2014. Radar bawah tanah dan teknik pemetaan magnetik mengungkap, Stonehenge terletak di tengah kompleks seluas 12 kilometer persegi.

Proyek tersebut disorot banyak media massa pada 2015. Ketika itu para peneliti mengumumkan temuan mereka di sekitar Durrington Walls, sebuah lingkaran bebatuan besar berdiameter 500 meter. Temuan itu mereka prediksi dapat mengungkap 'Superhenge'.

Namun kehebohan media massa tidak berlangsung lama. Saat para ilmuwan mengekskavasi situs itu, mereka tak menemukan batu apapun. Sebaliknya, mereka mendapati fakta bahwa pepohonan pernah tumbuh di kawasan tersebut.

Setelah fosil pohon-pohon itu dibersihkan, para peneliti memasukkan kapur ke lubang tersebut, lalu menguburnya agar membentuk setumpuk batu. Merujuk pada pemindaian radar, celah di antara kapur-kapur itu memang terlihat seperti bebatuan.

Saat ini Durrington Walls merupakan sebidang lahan yang dikelilingi dataran lebih tinggi yang menjorok ke parit-parit buatan.

Di luar target yang meleset, pemimpin Proyek Lanskap Tersembunyi Stonehenge, Vincent Gaffney, menyatakan timnya telah menemukan ratusan petunjuk dan situs yang belum pernah terungkap sebelumnya.

"Berdasarkan survei ini, kami akhirnya tahu lokasi sisa-sisa zaman prasejarah ini, tapi juga tempat-tempat yang tak berkaitan dengannya," ujar Gaffney, seorang arkeolog dari Universitas Bradfor.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya