Gaffney menyebut penyelidikan semacam ini vital karena "memberikan ruang investigasi kepada para arkeolog, tak hanya terhadap pusat monumen prasejerah yang telah diketahui publik, tapi kawasan-kawasan lainnya. Penelitian ini membebaskan kami menginterpretasikan petunjuk melalui pendekatan yang rumit.
"Apa yang telah terungkap dalam penelitian ini merupakan fase penting Durrington Walls yang sebelumnya tak diketahui.
Di antara perkampungan neolitik dan benteng raksasa terdapat pilar lingkaran yang tingginya sekitar empat sampai enam meter, jumlahnya paling sedikit 200 atau setidaknya 300 buah.
"Temuan baru ini pasti akan terlewatkan tanpa penelitian ini."
Penanda berupa bebatuan modern ditancapkan di sejumlah titik di mana pilar-pilar Woodhenge, sebuah monumen prasejarah lain di lokasi itu, seharusnya berada.
Penemuan monumen prasejarah lain di area tersebut mengubah cara para arkeolog melihat fase perubahan dan sejarah kawasan itu.
"Secara bertahap, saya menyarankan kita mulai melihat mozaik dari area yang kosong dan tugu-tugu yang ada, selagi menganjurkan perpindahan yang berarakan," kata Gaffney.
Dalam kata lain, bentang alam itu dulu biasa digunakan untuk prosesi keagamaan yang berhubungan dengan sejumlah tugu di tempat tersebut.
Mike Parker Pearson dari Institut Arkeologi University College London, yang memimpin Proyek Stonehenge Riverside dari 2003 hingga 2009, menilai penempatan pilar-pilar batu itu hanya sementara atau dapat dibongkar sewaktu-waktu.
"Batu-batu itu mungkin hanya didirikan untuk beberapa bulan sebelum digantikan tumpukan batu yang melingkar dan parit," ujarnya.
"Tujuan mereka sepertinya membuat garis lingkaran imajiner di perkampungan itu, yang sekarang telah ditinggalkan. Jadi mungkin pilar-pilar itu merupakan tugu peringatan bagi orang-orang yang tinggal di sini selama membangun Stonehenge."
Apapun kegunaan monumen prasejarah itu, Stonehenge jelas bukan satu-satunya tugu di bentang alam tersebut. Memahami fungsi Stonehenge tergantung pada pemahaman terhadap benda-benda lain di sekitarnya.
Proyek Stonehenge Rverside menemukan petunjuk bahwa Stonehenge dibangun dalam dua fase berbeda. Yang pertama, terdiri dari selokan, dataran yang menjorok ke sungai, dan deretan bebatuan biru yang membentuk bulatan, dibangun 500 tahun lebih awal dari yang diperkirakan peneliti. Sementara itu, batu-batu besar melingkar yang ikonik dibangun 500 tahun sesudahnya.
Stonehenge bukanlah satu-satunya situs prasejarah di kawasan itu. Adapun, kawasan itu ditinggali setidaknya 9,000 tahun lalu, penanda bahwa area itu telah dimanfaatkan sebelum Stonehenge dibangun.
Tiga puluh kilometer dari area itu berdiri tugu purbakala yang tidak begitu dikenal namun memliki kegunaan serupa Stonehenge, yakni Avebury, situs batu melingkar terbesar di Eropa.
Jangkauan zaman neolitik di area Avebury lebih jauh dibandingkan kawasan lainnya, antara lain sampai ke Wales, di mana masyarakat Britons kuno mendapatkan bebatuan biru sebagai material utama lingkaran dalam Stonehenge.
Di sisi lain, Parker Pearson menyebut batu-batu besar Stonehenge didatangkan dari area Avebury. Ini menandakan bentang alam dari zaman neolitik tersebut saling berhubungan—Plateau Salisbury, Avebury, Bukit Preseli di Wales, dan kawasan lain yang memiliki banyak tugu prasejarah.
Parker menilai, batu-batu biru dari Wales adalah batu pertama yang diletakkan di Stonehenge. Asal-muasal monumen itu sangat penting diketahui.
Batu-batu itu disebut sebagai simbol nenek moyang masyarakat Briton barat. Parker berkata, "membawa batu-batu itu ke Plateau Salisbury merupakan medium pemersatu dua masyarakat neolitik di selatan Inggris."
Kini, Bukit Preseli terlihat berbintik karena keberadaan dolmen atau meja batu datar yang ditopang tiang batu. "Massa jenis dolmen-dolmen itu menunjukkan kawasan itu merupakan area vital, baik secara politik dan religius, 700 tahun sebelum Stonehenge dibangun," kata Parker.
Pernyataan Parker itu secara tidak langsung memunculkan probabilitas Bukti Preseli sebagai daerah unggul di seantero Inggris barat pada tahun 3000 sebelum masehi.