PYONGYANG – Muncul klaim yang menyatakan bahwa keadaan di Korea Utara akan mengalami “malapetaka” jika Kim Jong-un digulingkan. Klaim itu disampaikan oleh seorang jurnalis yang menyamar dan sempat tinggal di Pyongyang, Suki Kim.
Sebagaimana dikutip dari Independent, Selasa (5/9.2017) Kim mengatakan, membuka akses terhadap masyarakat Korea Utara adalah masalah yang suram. Pasalnya, ia menjelaskan bahwa mereka tidak pernah mendapatkan “alat” yang dibutuhkan, seperti informasi, pendidikan hingga alat untuk berbagi.
BACA JUGA: Kutuk Bom Hidrogen Korut, Putin: Histeria Militer akan Picu Bencana Global
BACA JUGA: Korsel Sebar 4 Sistem Anti-Rudal Hadapi Korut, Bagaimana Reaksi Rusia?
Jurnalis tersebut mendapatkan pengalamannya di Korea Utara dengan mengajar sebagai guru bahasa Inggris di Pyongyang University of Science and Technology. Selama di sana, Kim acap kali menyelundupkan berbagai catatan mengenai keadaan Pyongyang agar bisa menceritakannya ke dunia luar.
“Ini bukan sebuah sistem di mana mereka bisa menjadi moderat. Pemimpin Tertinggi tidak bisa dimoderat. Anda tidak bisa sedikit tidak mirip dewa. Sistem Pemimpin Tertinggi harus diputuskan. Tapi hal ini tidak mungkin terbayangkan,” ujar penulis buku Without You, There Is No Us” itu kepada media Intercept.
Perempuan yang lahir di Korea Selatan itu sebelum mengajar di Pyongyang pernah beberapa kali mengunjungi Korea Utara dan menuliskan pengalamannya di Harper Magazin dan New York Review of Books. Namun satu hal yang pasti, selama di sana tidak ada orang yang tahu mengenai tugas utama Kim yaitu untuk melakukan penyelidikan jurnalisme mengenai Korea Utara.
BACA JUGA: Ngeri! Jepang Sebut Bom Hidrogen Korut Lebih Dahsyat dari Bom Atom Hiroshima
BACA JUGA: Gawat! 2 Hari Pasca-Uji Bom Hidrogen, Korut Dicurigai akan Luncurkan Rudal Lagi
Catatan-catatan rahasia serta dokumen mengenai negara tersebut ia sembunyikan di USB dan kartu sim ponselnya. Kim sempat khawatir akan tertangkap dan dituduh melakukan spionase tapi untungnya ia berhasil keluar Korea Utara tanpa mendapatkan sorotan dari otoritas keamanannya dan tinggal di Amerika Serikat.
Ketika berada di Negeri Paman Sam, Kim pun menulis buku Without You, There Is No Us pada 2014. Judul buku itu diambil dari salah satu lirik lagu Korea Utara di mana kata You (Anda) dalam lagu itu didedikasikan untuk ayah Kim Jong-un, Kim Jong-il.
Dengan semakin memanasnya situasi di Semenanjung Korea, Kim menyatakan kekhawatiran utamanya saat ini. “Intervensi (Militer) tidak akan berguna karena kekuatan nuklirnya. Saya kira itu harus terjadi terjadi dalam menuangkan informasi ke Korea Utara dalam kapasitas apa pun,” tuturnya.
“Tapi kemudian populasi di sana merupakan korban ideologis kultus. Bahkan jika Pemimpin Tertinggi sudah tidak ada, bentuk kediktatoran lainnya akan menggantikannya. Setiap jalan adalah malapetaka. Saya ingin menawarkan solusi namun semuanya mengarah ke jalan buntu,” tambah Kim.
(Emirald Julio)