TEHERAN – Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif mengatakan dirinya memperkirakan Amerika Serikat (AS) akan menyingkirkan perjanjian program nuklir yang telah membatasi aktivitas nuklir Iran. Meski begitu, Zarif berharap negara-negara Eropa masih akan mempertahankan perjanjian tersebut.
Presiden AS Donald Trump yang merupakan penentang keras perjanjian tersebut, bulan depan akan mengumumkan keputusan apakah dia meyakini Iran telah mematuhi persyaratannya dalam perjanjian tersebut atau tidak. Jika Trump menilai Iran telah melakukan pelanggaran, maka Kongres AS akan memulai proses untuk kembali menjatuhkan sanksi pada Iran.
Perancis, Jerman dan Inggris yang juga menandatangani perjanjian nuklir itu bersama China dan Rusia, baru-baru ini mengambil sikap berseberangan dengan Trump dan membela perjanjian tersebut.
Dalam wawancara dengan media Inggris, Zarif mengatakan, jika perjanjian nuklir itu dibatalkan, maka Iran tidak perlu lagi mengikuti pembatasan pada pengayaan uranium, jumlah sentrifugal dan produksi plutonium. Tetapi, Zarif menegaskan, Iran hanya akan menggunakan teknologi nuklirnya untuk tujuan damai.
“Pilihannya, Anda menjalankan perjanjian itu atau menyingkirkannya. Asumsi dan dugaan saya adalah bahwa Trump tidak akan mengesahkan perjanjian tersebut dan kemudian akan mengizinkan Kongres untuk mengambil keputusan," ujar Zarif sebagaimana dikutip BBC, Sabtu (30/9/2017).
"Kesepakatan itu memungkinkan Iran untuk melanjutkan penelitian dan pengembangannya, jadi kami telah memperbaiki basis teknologi kami. Jika kami memutuskan untuk meninggalkan kesepakatan, kami akan pergi dengan teknologi yang lebih baik," tambahnya.
Zarif mengatakan, saat ini pilihan yang dimiliki Iran bergantung pada bagaimana komunitas internasional menanggapi AS.
“Jika negara-negara Eropa bersama Jepang, Rusia dan China memutuskan untuk setuju dengan AS, maka perjanjian nuklir tersebut akan berakhir,” pungkasnya.
(Rahman Asmardika)