Sepanjang 2017, Rentetan Bencana di Indonesia Buat 3,2 Juta Warga Mengungsi & Menderita

Demon Fajri, Jurnalis
Senin 11 Desember 2017 21:50 WIB
Foto: Antara
Share :

JAKARTA - Sepanjang 2017, sejumlah provinsi di Indonesia banyak dilanda bencana alam. Mulai dari bencana banjir, longsor hingga puting beliung. Begitu juga dengan bencana geologi, seperti gempa bumi dan erupsi gunung api.

Dari data yang terhimpun Okezone, di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kejadian bencana selama 2017 terhitung sejak, Minggu 1 Januari 2017 hingga Senin 20 November 2017, terdapat 2.057 bencana. Dampak bencana tersebut, memakan korban jiwa 282 orang meninggal, 864 orang luka-luka dan 3.209.513 orang mengungsi dan menderita.

Tidak hanya itu, dampak lainnya juga adanya kerusakan bangunan. Tercatat 24.282 unit rumah rusak. Rinciannya, 4.594 rusak berat, 4.164 rusak sedang dan 15.524 rusak ringan.

(Baca Juga: Selama 2017, Sebanyak 2.057 Bencana Sebabkan 282 Jiwa Meninggal dan 3,2 Juta Jiwa Mengungsi)

Sementara, 313.901 unit rumah terendam. Sebanyak 1.611 unit fasilitas publik meliputi 974 unit fasilitas pendidikan, 546 unit fasilitas peribadatan dan 91 fasilitas kesehatan.

Sepanjang tahun ini, sejumlah provinsi dilanda bencana alam. Berikut daerah-daerah yang dilanda bencana dari Januari 2017 hingga 7 Desember 2017.

1. Gempa

Banyak gempa bumi yang melanda Indonesia sepanjang 2017, dari sekian banyak gempa tersebut ribuan hingga puluhan orang terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bahkan sebagian di antara mereka harus kehilangan tempat tinggal

-Gempa Deli Serdang

Gempa bumi terjadi di Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara, pada Senin 16 Januari 2017, sekira pukul 19.42 WIB.

Gempa dengan kekuatan 5,6 SR itu berpusat 28 kilometer (KM) barat daya Kabupaten Deli Serdang. Sumber gempa berasal dari sesar di darat dengan kedalaman 10 km.

(Baca Juga: Gempa di Deliserdang Berlangsung Dua Kali)

Posko BNPB mengkonfirmasi dampak gempa. Gempa dirasakan keras di Deli Serdang, Binjai dan Karo sekitar 5-8 detik. Masyarakat panik dan berhamburan keluar rumah.

Gempa juga dirasakan dengan intensitas sedang di Kota Medan. Masyarakat Kota Medan berhamburan keluar rumah.

"Dilaporkan beberapa rumah mengalami kerusakan," kata Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Senin 16 Januari 2017.

Hampir setiap hari wilayah Indonesia diguncang gempa bumi. Gempa berkekuatan 5,3 SR, dengan pusat gempa di laut, pada kedalaman 15 km di 52 km barat laut Nias Utara, Provinsi Sumatera Utara. Goyang gempa itu terjadi pada Selasa 21 November 2017, sekira pukul 06.41 WIB.

(Baca Juga: Deliserdang Diguncang 29 Kali Gempa)

Dampak gempa merusak bangunan di 5 desa yaitu Desa Posi-Posi, Desa Leo-Leo Rao, Desa Aru Burung, Deaa Lou Madoro, Desa Saminya Mao dan Desa Waya Bula di Kecamatan Morotai Selatan Barat Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara.

Satu orang meninggal dunia dan 294 bangunan rusak akibat gempa bumi. Total kerusakan akibat gempa bumi, 160 rumah rusak berat, 11 rumah rusak sedang, 108 rumah rusak ringan, 1 pustu rusak berat, 12 gereja dan satu sekolah dasar rusak ringan.

- Gempa Bengkulu

Bergeser ke Bengkulu. Gempa tektonik juga mengguncang Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Jumat 20 oktober 2017. Guncangan gempa di daerah ini terjadi sebanyak dua kali, yang hanya berselang satu menit.

Untuk gempa pertama terjadi pada sekira pukul 07.36 WIB, dan gempa kedua terjadi sekira pukul 07.37 WIB. Akibat gempa tersebut, pemukiman penduduk di sekitar wilayah Kelurahan Pasar Ujung Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang, mengalami kerusakan ringan. Kerusakan itu berupa retakan pada dinding dan pagar di beberapa rumah.

Kepala Stasiun Geofisika Kepahiang, Bengkulu, Litman mengatakan, berdasarkan hasil analisis BMKG gempa pertama berkekuatan 3,0 Skala Richter (SR), terletak pada episenter dengan koordinat 3.66 Lintang Selatan (LS) dan 102.58 Bujur Timur (BT), pada jarak 2 km Barat, Kabupaten Kepahiang.

Kemudian, terang Litman, gempa kedua berkekuatan 2,8 SR, yang terletak pada episenter dengan koordinat 3.60 LS dan 102.65 BT, tepatnya pada jarak 8 kilometer (KM) Timut Laut, Kepahiang.

(Baca Juga: Diguncang Gempa Beruntun, Dinding Rumah Warga Kapahiang Retak-Retak)

"Kedua gempa bumi tersebut terjadi pada kedalaman 1 km," kata Litman, saat dihubungi Okezone, Jumat 20 Oktober 2017.

Pada awal Desember tepatnya, pada Rabu 6 Desember 2017. Gempa tektonik berkekuatan 5,0 SR juga mengguncang Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu, sekira pukul 03.46 WIB.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, gempabumi berkekuatan M=5,0 terjadi dengan koordinat episenter pada 3,18 Lintang Selatan (LS) dan 102,11 Bujur Timur (BT).

Tepatnya, berlokasi didarat pada jarak 12 kilometer (KM) arah barat daya Kota Muara Aman Kabupaten Lebong, pada kedalaman 10 km.

Dampak gempabumi pada peta tingkat guncangan (shakemap)BMKG menunjukkan, dampak gempabumi berupa guncangan dirasakan di daerah Lebong II SIG-BMKG (III-IV MMI).

Lalu, Kota Lubuk Linggau Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu Utara II SIG-BMKG (III MMI), Kota Bengkulu II SIG-BMKG (II-III MMI). Hal ini sesuai dengan informasi yang dirasakan dari masyarakat.

Dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu menghitung, tidak kurang dari 41 kepala keluarga (KK) di Kecamatan Lebong Atas dan Kecamatan Pelabai, mengungsi.

Puluhan KK itu mengungsi, lantaran rumah mereka mengalami rusak berat paska digoyang gempa.

"36 unit rumah di Lebong Atas rumah berat dan 5 unit rumah di Kecamatan Pelabai juga mengalami rusak berat. Sehingga mereka mengungsi ke tempat yang lebih aman," kata Plt Kepala BPBD Kabupaten Lebong, Fakrurozi, saat dikonfirmasi via telefon, Kamis 7 Desember 2017.

Gempa itu juga membuat rumah warga mengalami rusak. Seperti, di Kecamatan Lebong Atas, sebanyak 36 unit rumah mengalami rusak berat. Kemudian, 77 unit rumah mengalami rusak sedang dan 105 rumah mengalami ringan.

Kemudian, di Kecamatan Pelabai, rumah yang mengalami rusak berat sebanyak 5 unit, rusak sedang 2 unit dan ringan 22 unit. Sehingga total kerusakan di Kecamatan Pelabai sebanyak 29 unit.

"Total kerusakan dari berat, sedang dan ringan didua kecamatan mencapai 247 unit. Itu termasuk sarana pendidikan dan sarana ibadah," kata Fakrurozi.

- Gempa Poso

Gempa bumi juga kembali melanda Palu Provinsi Sulawesi Tengah, pada Senin 29 Mei 2017, sekira pukul 21.35 WIB. Di mana pusat gempa di darat pada kedalaman 10 km.

Gempa berkekuatan 6,6 SR itu berpusat gempa di 38 kilometer (KM) Barat Laut Poso, 58 km Timur Laut Sigi atau 75 km di Tenggara Palu Provinsi Sulawesi Tengah.

Gempa susulan terjadi, pada Senin 29 Mei 2017, sekira pukul 21.53 WIB. Gempa itu berkekuatan 5 SR berpusat di 51 km Timur Laut Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, pada kedalaman 10 km.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah, rumah warga di wilayah Kabupaten Poso mengalami retak-retak atau rusak ringan. Dampak kerusakan akibat gempa kembali bertambah. Di mana korban gempa tercatat sebanyak 4 orang luka berat dan 21 orang luka ringan.

Tidak ada korban jiwa meninggal dunia. Sementara 348 bangunan mengalami kerusakan yang meliputi antara lain 168 rumah rusak berat, 143 rumah rusak ringan, 1 gereja rusak berat, 5 gereja rusak ringan.

(Baca Juga: Dahsyat, BMKG: 12 Gempa Bumi Susulan Guncang Poso)

Kemudian, 11 sekolah rusak berat, 2 sekolah rusak ringan, 2 masjid rusak ringan, dan 6 perkantoran mengalami kerusakan. Sebanyak 328 Kepala Keluarga (KK) mengungsi karena bangunan rumah rusak dan takut adanya gempa susulan.

2. Gunung Meletus

Indonesia memiliki 127 gunung api aktif. Dari ratusan gunungapi itu, 2 gunung api berstatus awas level 4 dan 17 gunung api berstatus waspada level 2 sepanjang 2017. Sementara, gunung api lainnya berstatus normal.

Dua gunung status Awas tersebut, gunung Agung di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali yang naik status Awas sejak Jumat 22 September 2017 dan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara status Awas sejak Selasa 2 Juni 2015.

Kedua gunung tersebut tidak dapat diprediksi kapan akan meletus. Di mana Gunung Sinabung tidak dapat diprediksikan kapan akan berhenti meletus.

"13 persen populasi gunungapi aktif di dunia terdapat di Indonesia dengan segala berkah dan musibah yang menyertai setiap letusannya," sampai Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Rabu 4 Oktober 2017, dalam keterangan yang diterima Okezone.

- Erupsi Gunung Agung

Geliat Gunung Agung kembali mengalami erupsi, pada Sabtu 25 November 2017, sekira pukul 17.30 WITA. Kolom abu teramati berwarna kelabu-kehitaman bertekanan sedang setinggi 1.500 m di atas puncak Gunung Agung.

Erupsi secara visual teramati dari daerah Culik dan Batulompeh ke arah Barat- Barat daya, asap kelabu-kehitaman tekanan sedang.

Erupsi Gunung Agung pertama terjadi, pada Selasa 21 November 2017, sekira pukul 17.05 WITA, dengan tinggi asap kelabu tebal dengan tekanan sedang maksimum 700 meter.

Dua hari kemudian, Senin 27 November 2017, PVMBG menaikkan status Gunung Agung dari Siaga level 3 menjadi Awas level 4, terhitung pukul 06.00 WITA.

Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BPBD Provinsi Bali, jumlah pengungsi per Rabu 29 November 2017, sebanyak 43.358 jiwa yang tersebar di 229 titik pengungsian.

Terakhir, Gunung Agung kembali meletus pada pukul 07.59 WITA, pada Jumat 8 Desember 2017. Secara visual Gunung Agung nampak ada asap berwarna kelabu tebal bertekanan sedang dan ketinggi 2.100 meter di atas puncak condong ke arah barat.

"Ya Gunung Agung kembali erupsi," kata Kepala Bidang Mitigasi Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, I Gede Suantika, Jumat 8 Desember 2017.

Bencana tersebut juga berdampak pada ekonomi. Seperti, dampak kerugian ekonomi peningkatan status Awas Gunung Agung di Bali mencapai lebih dari Rp2 triliun. Jumlah total kerugian dan kerusakan ekonomi akibat bencana belum dilakukan perhitungan.

"Pemda dan masyarakat diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi bencana," kata Sutopo, Senin 20 November 2017.

Lain halnya dengan Gunung Sinabung, sejak status Awas hingga saat ini hampir setiap hari meletus. Letusan disertai dengan lava pijar, gempa guguran, awan panas dan hujan abu. Hingga Agustus 2017, BNPB mencatat 7.214 jiwa atau 2.038 KK berada di 8 pos pengungsian. Namun, hanya 2.863 jiwa yang tinggal di pos pengungsian.

"Volume kubah lava berdasar hasil pengukuran 19 Juli 2017 sudah mencapai 2,3 juta meter kubik," ujar Sutopo.

Kamis 12 Oktober 2017, Gunung Sinabung kembali meletus. Selain melontarkan abu vulkanik, letusan juga disertai dengan gempa guguran, lava pijar dan luncuran awan panas.

Pos Pengamatan Gunung Sinabung PVMBG melaporkan letusan dengan tinggi kolom abu vulkanik 2.000 meter yang diikuti awan panas guguran, dengan jarak luncur 1.500 meter ke arah Selatan dan 2.000 meter ke arah Timur - Tenggara.

"Tidak ada korban jiwa dan penambahan jumlah pengungsi akibat letusan Gunung Sinabung," kata Sutopo, Kamis 12 Oktober 2017.

- Erupsi Kawah Sileri

Pada Minggu 2 Juli 2017, sekira pukul 12.00 WIB, kawah Sileri Dieng meletus freatik setinggi sekira 50 Meter. Kawah yang terdapat di Kompleks Gunung Dieng Desa Kepakisan Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara Provinsi Jawa Tengah, itu tiba-tiba meletus.

Saat itu, letusan disertai dengan material lahar dingin, lumpur dan asap hingga mencapai 50 meter, sehingga mengenai wisatawan yang berada di sekitar Kawah Sileri.

Tipe letusan freatik merupakan letusan gas atau embusan asap dan material, yang dipicu tekanan gas dibawah permukaan.

Berdasarkan laporan BPBD Banjarnegara sebanyak 17 orang pengunjung atau wisatawan berada di lokasi mengalami luka-luka. Empat orang menderita luka-luka dan dirawat di Puskesmas I Batur. Beruntung, saat kejadian tidak ada korban jiwa meninggal dunia.

"Kawah Sileri merupakan kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali. Sempat tercatat tahun 1939, 1944, 1964, 1984, 2003, 2009. Hingga saat ini status Gunung Dieng masih normal aktif," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, Minggu 2 Juli 2017.

Pada bulan ini, dari 67 gunungapi aktif yang dipantau PVMBG sebanyak 49 gunungapi berstatus Normal level I, 17 gunungapi berstatus Waspada level II dan satu gunung berstatus Awas level IV, Gunung Sinabung.

3. Banjir

Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyabutkan bahwa terdapat 386 kabupaten/kota berada di zona bahaya sedang hingga tinggi gempa bumi, 233 kabupaten dan kota berada di daerah rawan tsunami di Indonesia.

Selain itu, 75 kabupaten dan kota terancam erupsi gunung api. Kemudian, 315 berada di daerah bahaya sedang-tinggi banjir dan 274 di daerah bahaya sedang-tinggi bencana longsor.

- Banjir Tebing Tinggi

Ribuan rumah terendam banjir dan ribuan jiwa terdampak di Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Asahan dan Kabupaten Labura Provinsi Sumatera Utara, pada Sabtu 16 September 2017.

Meluapnya Sungai Padang dan Sungai Bahilang akibat hujan lebat menyebabkan banjir melanda 5 kecamatan di Kota Tebing Tinggi. Sehingga 1.958 rumah terendam banjir dan 7.768 jiwa terdampak banjir, sejak Sabtu 16 September 2017, sekira pukul 02.00 WIB.

- Banjir Limapuluh Kota

Bencana banjir dan longsor juga menerjang Kabupaten Limapuluh Kota Provinsi Sumatera Barat, pada Jumat 3 Maret 2017. Hujan lebat secara terus menerus menyebabkan Sungai Sumpur meluap dan longsor di tebing dan perbukitan.

Sebanyak 8 kecamatan dan 13 nagari terdampak langsung dari banjir dan longsor yang meliputi Kecamatan Pangkalan, Kapur IX, Mungka, Harau, Payakumbuh, Lareh Sago Halaban, Sulikik, dan Empat Barisan.

Hingga Sabtu 4 Maret 2017, korban jiwa akibat longsor di Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 5 orang meninggal dunia. Dampak lainnya, ratusan rumah terendam banjir seperti di 150 rumah di Jorong Ranah Pasar, 50 unit rumah di Jorong Ranah Baru, 50 unit rumah di Jorong Abai.

Tidak hanya itu, jalan nasional penghubung Sumatera Barat - Riau putus. Di kelok 17 terdapat 4 titik longsor. Delapan mobil tertimpa longsor di Km 17 Koto Alam.

Jumlah korban pun bertambah. Hingga Minggu 5 Maret 2017, sekira pukul 21.30 WIB. Posko Tanggap Darurat Banjir dan Longsor di Kabupaten Limapuluh Kota melaporkan 2 orang meninggal dunia dan 2 luka berat akibat banjir dan longsor.

Banjir dan longsor terjadi pada 25 titik. Rinciannya, 13 titik longsor dan 12 titik banjir. Longsor tersebar pada 9 titik di Kecamatan Pangkalan.

Sedangkan banjir tersebar pada 7 kecamatan dengan titik banjir tertinggi mencapai 1,5 meter di Kecamatan Pangkalan yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Batang Maek di Kecamatan Pangkalan, sungai Batang Kapur di Kecamatan Kapur IX, sungai Batang Sinamar di Lareh Sago Halaban dan sungai Batang Harau di Kecamatan Harau.

Longsor menyebabkan beberapa instalasi milik PLN rusak. Akibatnya 117 gardu listrik terpaksa dipadamkan dan 14.657 pelanggan PLN tak teraliri listrik.

Bencana banjir dan longsor di Kabupaten Limapuluh Kota menyebabkan kerugian dan kerusakan ekonomi diperkirakan sekira Rp252,9 miliar. Meliputi, bidang pendidikan, pertanian, pekerjaan umum, perikanan, kesehatan, dan perdagangan.

Sementara, ribuan rumah terendam banjir, bahkan menimbulkan korban jiwa di Kabupaten Tolitoli menyebabkan Sungai Tuwelei dan Sungai Lembe meluap.

- Banjir Toli-Toli

Banjir bandang menerjang empat kecamatan Kabupaten Tolitoli Provinsi Sulawesi Tengah, pada Sabtu 3 Juni 2017, sekira pukul 13.00 WITA. Tinggi banjir di permukiman sekitar 1 hingga 3 meter.

Diperkirakan sekitar 56.000 KK terdampak banjir. Banjir bandang di Kecamatan Dakopamean menyebabkan 15 rumah hanyut, 1 jembatan putus dan perumahan, perkantoran serta sekolah terendam banjir hingga ketinggian 1 meter.

Jalur Trans Sulawesi yang menghubungkan Kota Tolitoli dan Kota Palu putus total akibat terendam banjir.

4. Longsor

Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor dan puting beliung masih terus mengancam hingga musim penghujan berakhir. Diperkirakan kejadian bencana ini masih akan terus bertambah.

Longsor adalah bencana yang banyak menimbulkan korban jiwa. Selama tahun 2017 ini, tercatat 438 kejadian bencana longsor di Indonesia.

Dampak longsor menyebabkan 95 orang meninggal dunia, 132 orang luka-luka, 43.416 orang menderita dan mengungsi, dan lebih dari 1.500 unit rumah rusak.

Puncak musim penghujan diperkirakan pada Januari mendatang sehingga ancaman banjir dan longsor akan makin meningkat.

Longsor adalah bencana yang banyak menimbulkan korban jiwa. Ada 40,9 juta jiwa masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah rawan longsor sedang hingga tinggi.

- Longsor Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan

Kejadian bencana longsor dan banjir bandang, di Kecamatan Sungai Are Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Provinsi Sumatera Selatan, pada Kamis 9 November 2017.

Longsor pertama terjadi di Desa Cukohnau Kecamatan Sungai Are Kabupaten OKU Selatan, pada kamis 9 November 2017, sekira pukul 17.00 WIB. Longsor menimbun satu rumah yang menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Kemudian pada pukul 20.00 WIB, terjadi longsor di Desa Sadau Jaya Kecamatan Sungai Are Kabupaten OKU Selatan. Longsor menimbun satu rumah berisi 7 orang. Lima orang meninggal dunia dan dua orang luka-luka.

Camat Sungai Are, Alkaf Najemi, S. Sos mengatakan bencana alam tanah longsor menyapu Kecamatan Sungai Are sendiri membuat lima korban tewas tertimbun. Korban satu keluarga terdiri dari pasangan suami istri dan tiga orang anak korban dari total tujuh jiwa menghuni pondok tersebut.

"Ada enam orang korban ditemukan tewas setelah dilaporkan warga dan keluarga menghilang usai tertimbun longsor. Sedangkan empat lain sekarang kini dirawat di Puskesmas lantaran menderita luka luka berat dan patah tulang," ucap Alkaf, Kamis 9 November 2017.

- Longsor Ponorogo

Bencana longsor juga menerjang permukiman warga dan menimbulkan korban jiwa. Hujan yang berlangsung sejak Jumat 31 Maret 2017, memicu longsor di Desa Banaran Kecamatan Pulung Kabupaten Ponorogo Provinsi Jawa Timur, pada Sabtu 1 April 2017, sekira pukul 06.00 WIB.

Longsor menimbun rumah dan masyarakat yang sedang memanen jahe dibagian bawah lereng perbukitan. 28 orang ikut tertimbun material longsor.

Material longsoran memanjang dari bukit sekitar 800 meter, dan tinggi sekitar 20 meter. 23 rumah terdampak longsor mengalami rusak berat dan sebagian rusak.

- Longsor Kintamani

Bencana longsor juga sempat terjadi di Desa Songan Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli Provinsi Bali, pada Kamis 9 Februari 2017, sekira pukul 23.00 WITA. Akibatnya, 12 orang meninggal dunia akibat tertimbun longsor di 3 desa.

Sementara itu, longsor menimbun rumah penduduk di Dusun Harapan Makmur I Desa Maliwowo Kecamatan Angkona Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan, pada Jumat 12 April 2017, sekira pukul 05.30 WITA.

Bencana longsor menyebabkan 7 orang meninggal dunia, 7 luka berat, dan 14 rumah rusak tertimbun longsor. Longsor juga menutup lalu lintas jalan Trans Sulawesi – Tarengge Malili terputus karena tertimbun material longsor.

5. Puting Beliung

Kejadian puting beliung terus meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Selama tahun 2017 telah terjadi 624 kejadian puting beliung yang menyebabkan 30 orang meninggal dunia, 166 orang luka-luka, 13.692 orang menderita dan mengungsi, 12.607 rumah rusak dan ratusan bangunan publik rusak.

Daerah rawan bencana puting beliung juga makin meluas. Daerah-daerah perkotaan makin sering terjadi puting beliung.

Adanya perubahan penggunaan lahan dari hutan atau daerah yang banyak vegetasi berubah menjadi daerah permukiman dan perkotaan menyebabkan temperatur permukaan tanah cepat naik.

Efek pulau bahang (heat island effect) yang terjadi di kawasan perkotaan menyebabkan beda suhu antara permukaan tanah dan atmosfer cukup tinggi sehingga menimbulkan perbedaan tekanan udara sehingga timbul angin kencang atau puting beliung saat cuaca mendung.

Kemampuan iptek saat ini belum mampu memprediksi puting beliung secara pasti. Skalanya mikro. Hanya terjadi pada daerah sekitar 10 kilometer persegi dengan waktu kejadian berlangsung antara 5-10 menit. Kecepatan angin puting beliung berkisar 60-80 km/jam.

- Puting Beliung Yogyakarta

Hujan deras disertai dengan puting beliung menerjang beberapa daerah di Provinsi Yogyakarta, pada Kamis 5 Januari 2016, sekira pukul 14.00 WIB.

Daerah yang paling terdampak adalah Kabupaten Sleman meliputi beberapa daerah di Cebongan, Tempel, Margomulyo, Ngemplaksari, Kecamatan Seyegan.

Puting beliung menyebabkan banyak pohon tumbang menimpa rumah, kendaraan di jalan dan tiang listrik. Di Sleman tersebar di 28 titik di Kota Yogyakarta dan Bantul.

Dampak yang ditimbulkan 1 orang meninggal dunia, 25 rumah rusak, 37 pohon tumbang, 2 titik jaringan listrik tergangu, 3 fasilitas umum rusak, 9 akses ruas jalan terganggu dan 3 mobil dan 1 sepeda motor rusak.

- Puting Beliung Jambi

Puting beliung juga melanda Kecamatan Pakusari dan Sumbersari di Kabupaten Jember Provinsi Jawa Timur, pada Kamis 5 Januari 2017, sekira pukul 14.00 WIB.

Puting beliung menyebabkan banyak pohon tumbang dan ratusan rumah rusak. Berdasarkan laporan BPBD Jember hari itu, terdapat 1 orang meninggal dunia, 10 orang luka-luka, dan 267 rumah rusak.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya