Share

Tahun Duka Bagi Mugabe, Dikudeta Militer Setelah 3 Dekade Kuasai Zimbabwe

Rahman Asmardika, Okezone · Kamis 21 Desember 2017 16:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 21 18 1834013 tahun-duka-bagi-mugabe-dikudeta-militer-setelah-3-dekade-kuasai-zimbabwe-lr3ckqsYPX.jpg Mantan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe. (Foto: Reuters)

SETELAHĀ lebih dari 30 tahun, kekuasaan Presiden Zimbabwe, Robert Mugabe berakhir pada 21 November 2017 melalui sebuah kudeta tak berdarah. Di akhir kudeta, Mugabe yang tidak lagi mendapatkan dukungan dari partainya, Zanu-PF akhirnya setuju untuk menyerahkan kedudukan yang telah dipegangnya sejak 1980.

Awal Kekuasaan Mugabe

Robert Mugabe adalah seorang tokoh revolusi dan politikus Zimbabwe yang berperan dalam perjuangan kemerdekaan Zimbabwe yang dahulu dikenal dengan nama Rhodesia Selatan. Pada 1963, Mugabe mendirikan Zimbabwe Africa National Union, sebuah organisasi perlawanan terhadap penjajahan Inggris.

Setelah Zimbabwe merdeka pada 1980, Mugabe terpilih menjadi perdana menteri di negara baru tersebut dan kemudian menjadi presiden tujuh tahun kemudian. Sejak saat itu, Mugabe memegang kekuasaan mutlak di Zimbabwe dengan dukungan partai berkuasa bentukannya, Zanu- Patriotic Front (ZANU-PF).

Masa awal pemerintahan Mugabe berjalan dengan baik. Berfokus untuk memperbaiki ekonomi Zimbabwe yang hancur, Mugabe membuat kebijakan lima tahun yang mencabut pembatasan harga bagi para petani dan membiarkan mereka menentukan harga jual produknya sendiri.

Di akhir rencana pembangunan lima tahun Mugabe, pada 1994 Zimbabwe menunjukkan pertumbuhan di bidang pertanian, pertambangan dan industri manufaktur. Mugabe juga mulai membangun lebih banyak sekolah dan klinik untuk populasi kulit hitam di negaranya.

Sayangnya, di saat semua kemajuan itu terjadi, istri Mugabe, Sarah meninggal dunia. Meninggalnya Sarah membuat Mugabe bisa menikahi kekasih rahasianya saat itu, Grace Marufu yang kemudian dikenal sebagai Grace Mugabe.

Masa Kepresidenan dan Kebijakan Kontroversial

Dua tahun kemudian pada 1996, kebijakan Mugabe mulai menimbulkan keresahan di kalangan warga Zimbabwe. Banyak yang tidak menyukai keputusannya untuk menyita tanah milik warga kulit putih tanpa pemberian kompensasi kepada pemiliknya.

Mugabe mengatakan penyitaan itu merupakan satu-satunya cara perekonomian antara warga kulit hitam dan kulit putih berjalan seimbang yang hak-haknya dirampas selama masa penjajahan Inggris. Selain itu, rakyat Zimbabwe juga berang dengan penolakan Mugabe untuk memperbaiki sistem undang-undang satu Partai Zimbabwe.

Inflasi yang tinggi juga menjadi sisi negatif lain dari kebijakan Mugabe. Hal ini menyebabkan terjadinya pemogokan pegawai negeri yang menuntut kenaikan gaji. Kenaikan gaji yang diberikan kepada para pejabat negara justru hanya menambah kebencian rakyat pada Pemerintahan Mugabe.

Penolakan terhadap kebijakan politik Mugabe terus menghambat kesuksesannya dalam menjalankan pemerintahan. Pada 1998, Mugabe meminta negara-negara lain menyumbangkan dana untuk distribusi tanah di Zimbabwe. Negara yang dimintai dana meminta Mugabe terlebih dahulu membuat sebuah rencana untuk menyejahterakan daerah pedesaan. Namun, Mugabe menolak dan sumbangan itu akhirnya tidak pernah diberikan.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

Dua tahun kemudian, Mugabe mengesahkan amandemen yang menuntut Inggris untuk membayar biaya reparasi atas tanah yang mereka sita dari penduduk kulit hitam semasa penjajahan. Dia mengancam akan menyita tanah-tanah warga Inggris jika mereka menolak membayar. Langkah ini semakin membuat hubungan luar negeri Zimbabwe dengan negara lain memburuk.

Semua kebijakan yang tidak populer itu ternyata tidak menghalangi Mugabe untuk memenangiĀ pemilihan presiden pada 2002. Uni Eropa yang menuduh Mugabe telah melakukan kecurangan dengan memanipulasi kotak suara, menetapkan embargo terhadap negara di selatan Afrika itu. Perekonomian Zimbabwe yang kala itu telah berada di ambang kehancuran semakin mengalami kesulitan.

BACA JUGA: Mengenal Mugabe, Tokoh yang Berkuasa Lebih Lama dari Soeharto

Mugabe terus melakukan cara-cara licik dan curang untuk mempertahankan kekuasannya pada pemilihan umum (pemilu) 2005 dan 2008. Bahkan, saat kalah dalam pemilihan dari Morgan Tsvangirai, Mugabe menolak menyerahkan kekuasaannya dan menuntut penghitungan ulang digelar.

Menjelang digelarnya pemilihan ulang pada Juni 2008, para pendukung Tsvangirai mengalami kekerasan bahkan dibunuh oleh para pendukung Mugabe. Penolakan Mugabe untuk menyerahkan kekuasaan kembali menimbulkan tindak kekerasan yang berujung pada tewasnya 85 orang dan ribuan lain yang mengalami luka-luka.

Meski pada akhirnya Mugabe dan Tsvangirai setuju untuk melakukan pembagian kekuasaan, pada 2010, pahlawan kemerdekaan Zimbabwe itu akhirnya mengambil langkah untuk mengambil alih kekuasaan sepenuhnya dengan memilih pemerintah provinsi tanpa persetujuan Tsvangirai yang semakin memperkuat dominasinya di pemerintahan.

Pemilu yang digelar pada 2013 kembali menghadapkan Mugabe dengan Tsvangirai dengan hasil yang tidak jauh berbeda. Setelah menolak adanya pengawasan pemilu dari pihak Barat, Mugabe yang saat itu berusia 89 tahun dituduh telah membuang suara yang mendukung saingannya dan melakukan intimidasi dan kekerasan pada pihak oposisi. Pada penghitungan akhir, Mugabe dinyatakan memperoleh 61 suara sementara Tsvangirai hanya 34 persen suara.

ā€œPemilu ini tidak mencerminkan kehendak rakyat. Saya tidak berpikir bahwa bahkan di Afrika ada yang melakukan tindakan manipulasi suara dengan terang-terangan dan cara yang kurang ajar, " kata Tsvangirai yang berang saat itu.

Kejatuhan Setelah Tiga Dekade Berkuasa

Kejatuhan Mugabe bermula padaĀ medioĀ 2017, seiring dengan usianya yang semakin uzur dan pembicaraan mengenai calon penggantinya mulai bermunculan. Perekonomian Zimbabwe yang semakin memburuk juga turut memunculkan semakin banyak kritik terhadap pemerintahannya.

Pada paruh akhir 2017, banyak yang berspekulasi bahwa Mugabe akan menunjuk istrinya Grace sebagai penggantinya kelak. Sang Ibu Negara adalah sosok yang tidak populer, baik di mata rakyat maupun di mata orang-orang di pemerintahan.

Grace yang dijuluki ā€œGucci Graceā€ oleh rakyat karena kegemarannya berbelanja barang mewah juga berperan dalam pemecatan beberapa mantan pejabat dan sekutu Mugabe dari pemerintahan. Perempuan berusia 52 tahun itu seringkali menghina dan menuntut pejabat pemerintah, bahkan dari partainya sendiri, ZANU-PF di depan publik.

BACA JUGA: Aniaya Model, Ibu Negara Zimbabwe Justru Diberi Kekebalan Diplomatik

Dia juga diduga berperan dalam menyingkirkan saingan-saingannya untuk menjadi penerus Mugabe. Pada 2014 Grace memelopori pemecatan mantan Wakil Presiden Zimbabwe yang juga sekutu dekat Mugabe, Joice Mujuru yang dituduhnya korup, pembohong dan tidak setia.

Berselang tiga tahun kemudian, pada 2017, Grace juga disebut-sebut berada di balik pendepakan pengganti Mujuru, Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa. Seperti juga Mujuru, wapres Mnangagwa juga dituduh telah tidak setia kepada Mugabe dan merencanakan kudeta.

Pemecatan Mnangagwa terbukti menjadi sebuah kesalahan dari Mugabe dan Ā menjadi memicu serangkaian peristiwa yang berujung pada kejatuhannya.

Pada 14 November 2017, beberapa hari setelah pemecatan Mnangagwa, keadaan di Zimbawe tegang. Tank-tank dan kendaraan militer terlihat lalu lalang di Ibu Kota Harare dan militer mengambil alih stasiun penyiaran Zimbabwe.

Ledakan dilaporkan terdengar di beberapa wilayah di ibu kota, membuat warga bertanya-tanya apakah telah terjadi kudeta.

Keesokan harinya, juru bicara angkatan bersenjata Zimbabwe menyatakan bahwa militer tengah melakukan pembersihan terhadap pihak-pihak dan pelaku kriminal yang dianggap telah menyebabkan penderitaan ekonomi dan sosial di Zimbabwe. Dia menepis dugaan telah terjadi kudeta militer dan menyatakan Presiden Mugabe dan keluarganya dalam keadaan selamat dan aman.

"Kami hanya menargetkan penjahat di sekitar presiden yang melakukan kejahatan sehingga menyebabkan penderitaan sosial dan ekonomi di negara ini untuk membawa mereka ke pengadilan," demikian pernyataan dari militer Zimbabwe yang disiarkan media.

ā€œSegera setelah kami menyelesaikan misi kami, kami berharap situasinya akan kembali normal."

Setelah pengambilalihan kekuasaan itu, militer Zimbabwe meminta Mugabe untuk mundur dari jabatannya. Namun, permintaan itu ditolak oleh presiden berusia 93 tahun tersebut. Dia bahkan sempat muncul dalam sebuah upacara wisuda universitas yang digelar dua hari setelah kudeta.

Tak ingin situasi berlarut-larut, pada 20 November 2017, partai berkuasa ZANU-PF menggelar rapat akbar dan memutuskan untuk memecat Mugabe dengan harapan membuatnya setuju untuk lengser. Sang presiden pun diberi waktu 24 jam untuk mengundurkan diri dan disarankan untuk meninggalkan Zimbabwe.

Akhirnya, pada 21 November 2017, setelah berkuasa selama 37 tahun, presiden bernama lengkap Robert Gabriel Mugabe itu menyatakan pengunduran dirinya melalui sebuah surat yang ditujukan kepada parlemen.

BACA JUGA: Delapan Hari Penuh Drama, Presiden Zimbabwe Akhirnya Resmi Mengundurkan Diri

"Saya telah mengundurkan diri untuk memungkinkan kelancaran transfer kekuasaan. Tolong sampaikan pemberitahuan keputusan saya kepada publik sesegera mungkin," tulis Mugabe.

Keputusan Mugabe itu segera disambut dengan tepukan tangan dan apresiasi dari anggota parlemen. Di jalan-jalan, rakyat Zimbabwe berpesta dan bergembira setelah mendengar kabar lengsernya Mugabe.

Posisi pria berusia 93 tahun itu sementara akan digantikan oleh mantan Wakil Presidennya, Emmerson Mnangagwa sampai akhir masa jabatan pada September 2018. Setelah itu, Zimbabwe akan menggelar pemilu untuk menentukan presiden baru mereka.

BACA JUGA: Usai Kudeta, Ultah Mantan Presiden Mugabe Dijadikan Hari Libur Nasional Zimbabwe

Meski dilengserkan, Mugabe ternyata tidak benar-benar menderita. Sebelum setuju untuk mundur, Mugabe ternyata sempat membuat kesepakatan dengan pemerintah Zimbabwe agar dia dan keluarganya mendapat jaminan kekebalan hukum dan terhindar dari persekusi. Tidak hanya itu, Mugabe juga akan mendapatkan pembayaran dengan nilai yang tidak kurang dari USD10 juta dan masih akan mendapatkan gajinya sebagai mantan presiden seumur hidupnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini