KUPANG - Waktu terus bergerak menelan senja, pertanda malam tiba. Namun mereka, para pemuda itu masih saja tekun menyelesaikan tugasnya membuat miniatur kandang Natal yang diimani sebagai tempat lahir Yesus sang Juru Selamat.
"Kandang natal ini harus segera selesai karena perayaan ekaristi memperingati kelahiran Yesus yang diimani umat kristiani sejagad sebagai sang juru selamat umat manusia tinggal beberapa hari saja. Kami harus lembur," kata seorang pemuda Simon Gerans (46) dikala berbincang dengan Okezone di sela-sela aksi pembuatan miniatur kandang Natal di Gereja Paroki St Yosep Pekerja Penfu.
(Baca Juga: Geliat Kemeriahan Menyambut Natal di Bangka Belitung)
Gereja St Yosep Pekerja Penfu adalah salah satu paroki (wilayah layanan pastoral) di Keuskupan Agung Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Proses Pembuatan Miniatur Kandang Tempat Lahir Yesus Sang Juru Selamat (foto: Adi Rianghepat/Okezone)
Menurut Simon setiap perayaan Natal umat paroki itu diberi tanggung jawab untuk mempersiapkan segala aksesoris di dalam gereja termasuk kandang Natal untuk mendukung pearayaan ekaristi umat. Hal ini sudah menjadi tradisi dan terus berulang saban tahun.
Untuk perayaan Natal 25 Desember 2017 ini, umat wilayah VII paroki itu yang diberi tanggung jawab menyediakan segalanya, termasuk pembuatan kandang natal itu.
Dalam kisah kelahiran Yesus yang ditulis para penginjil dalam kitab suci, disebutkan Putera Allah yang menjelma menjadi manusia itu dilahirkan oleh seorang perempuan bernama Maria di sebiah kandang hewan yang kumuh dan kotor karena ketiadaan penginapan.
Di Betlehem kota Daud itulah kandang yang hina dina itu berada. Dalam konteks ceritera yang diimani itulah telah mendorong tradisi umat Kristiani sejagad untuk selalu membuat miniatur kandang hewan di setiap perayaan Natal senagai pengingat alan kisah kelahiran Yesus Kristus yang adalah Tuhan itu.
"Ya, sama seperti yang saya dan teman-teman saya umat wilayah VII Paroki St Yosep Pekerja Penfui lakukan saat ini," kata Simon.
Tanggung jawab ini sebagai bagian dari pelayanan dan bukti kasih sebagaimana nilai yang ditanam Yesus sensiri kepada umat-Nya yang memberi kasih-Nya dan rela datang ke dunia di Natal ini dan wafat bagi semua umat yang percaya pada Dia.
Miniatur kandang Natal yang dibikin di gereja itu bukan untuk dijadikan sebagai bahan sembah berhala, tetapi untuk mengingatkan dan mengenang kisah kelahiran Yesus sang agung anak Allah yang menjadi manusia turun ke dunia melalui kelahiran seperti manusia lainnya.
"Namun pilihan Tuhan adalah sebuah kandang di padang di lokasi yang sunyi dan dingin dan hanya ditemani kawanan domba dan ternak serta pengembalanya," kata Simon.
(Baca Juga: Jelang Natal, Polisi Berbagi Kasih Bersama Suku Anak Dalam)
Yesus mau menunjukan bahwa semua orang sama di mata Tuhan meskipun dia yang terlahir dari keluarga tak mampu sekalipun. "Hanya perbuatan kasih yang bisa menaikan derajad kemanusiaan kita di hadapan Allah saat kita beralih ke akhirat mempertanggung jawabkan kehidupan kita di dunia fana ini," sambungnya.
Proses Pembuatan Miniatur Kandang Tempat Lahir Yesus Sang Juru Selamat (foto: Adi Rianghepat/Okezone)
Sama halnya dengan umat Katolik wilayah VII, pemuda Protestan GMIT Lanud El Tari Penfui-Kupang juga memiliki tradisi sama. Membuat kandang Natal baik di gereja maupyn secara berkelompok (rayon).
Tidak membutuhkan banyak bahan dan biaya. Sejumlah pemuda Rayon V Air Baru masing-masing Melkias Boboy, Andi Ola, Dikon Klakik dan dibantu beberapa penatua Noh Blegur, Yusp Boboy dan Mety, kandang Natal ala rayon usai.
Menurut Melkias Boboy, tradisi pembuatan kandang Natal di setiap rayon dimaksud agar setiap jemaat dan terutama kaum muda bisa kembali menikmati semangat natala dalam kebersamaan yang utuh. Kemajuan ilmu dan teknologi di zaman ini telah memberi jarak antarumat, meskipun dalam satu lingkunan di rayon.
Dengan kerja bersama kandang Natal rayon ini dipastikan akan terbangun kembali semangat gotong royong. Dengan demikian maka bela rasa sebagai sesama jemaat akan terus terawat.
Natal atau kelahiran Yesus yang adalah Tuhan itu harus dinyatakan dan dirayakan dengan penuh suka cita dan kemeriahaan. Dan suka cita serta kemeriahaan itu harus terjadi dalam suasana kebersamaan antarsesama jemaat.
"Itu maknanya sehingga saban tahun jelang Natal tradisi pembuatan kandang natal dengan segala aksesorisnya dilakukan perkelompok rayon," urai Melkias.
Memang banyak kalangan menilai hal ini hanya akan membuang waktu, namun dalam konteks layanan kasih dalam memori kenangan kelahiran Yesus, maka hal itu bukanlah hambatan.
(Baca Juga: 44 Gereja di Demak Dijaga Ketat Polisi Jelang Natal)
"Kami sukarela datang dan membuat kandang ini dengan semangat kebersamaan dan cinta seperti halnya Yesus yang menunjukan cintaNya kepada kita semua manusia dan rela turun ke dunia dan dilahirkan di kandang yang kotor dan hina," tuturnya.
Dia mengaku memanfaatkan semua bahan daur ulang untuk membuat kandang dan miniatur pohon natal sebagai bagian dari dukungan jemaat rayon menjaga kelestarian lingkungan. Setidaknya dalam segala kerendahan Tuhan, dia telah turun ke dunia ubtuk semua manusia.
Dan di titik itulah kandang natal akan menjadi simbol kasih tak terhingga Tuhan bagi umat manusia. "Itulah makna natal yang sesungguhnya dalam balutan damai bagi sesama, keluarga, jemaat, negara dan dunia," kata Melkias Boboy menutup perbincangan bersama Okezone di kegelapan yang mulai larut dan dingin itu. Salam damai Natal.
<div class="vicon"><iframe width="480" height="340" src="https://video.okezone.com/embed/MjAxNy8xMi8xOS81LzEwNjc4MS8wLw==" sandbox="allow-scripts allow-same-origin" layout="responsive"></iframe></div>