VATICAN CITY - Paus Fransiskus menjadikan Misa Malam Natal untuk menggaungkan pesannya agar segenap umat Katolik di dunia memerhatikan para pengungsi dan migran. Paus mengilustrasikan perjuangan yang dihadapi keluarga suci menjelang kelahiran bayi Yesus serupa dengan kesulitan para pengungsi dan migran tersebut.
Di hadapan sekira 10 ribu orang di Basilika Santo Petrus di Vatikan, serta puluhan ribu lainnya di alun-alun luar, Sri Paus mengingatkan, Bunda Maria melahirkan bayi Yesus di sebuah palungan karena tidak ada tempat untuk mereka di penginapan. Ia menggarisbawahi kisah di Alkitab itu dengan beragam peristiwa kekinian di dunia, seperti larangan memasuki Amerika Serikat bagi warga dari berbagai negara Islam, pembersihan etnis yang dilakukan Militer Myanmar terhadap minoritas Rohingya, serta perang, perdagangan manusia dan perbedaan kesejahteraan antarnegara yang telah menyebabkan jutaan orang terpaksa mendekam di kamp pengungsi kumuh.
Pemimpin 1,2 miliar umat Katolik Roma di dunia itu menggunakan contoh keluarga suci untuk menekankan "risiko bahaya bagi mereka yang harus meninggalkan rumah". Paus Fransiskus menyebut bahwa di Betlehem, Yusuf dan Bunda Maria menemukan "kota yang tidak memiliki kamar atau tempat bagi orang asing dari tanah jauh" serta "tidak memedulikan orang lain". Sebaliknya, Yesus justru "datang untuk memberikan dokumen kewarganegaan ke semua orang."