3.400 Warga Desa Dangiang Bertahan di Tenda Pengungsian
Desa Dangiang, sampai Wildhan, merupakan daerah terparah terkena dampak gempa di Lombok. Di desa ini bangunan rumah hampir 100 persen hancur dan rata dengan tanah.
Desa ini merupakan daerah transmigrasi sejak 1967. Penduduknya, terang Wildhan, adalah warga transmigrasi lokal yang sebelumnya berasal dari beberapa daerah di Kabupaten Lombok Tengah.
Jumlah penduduk desa tersebut 3.300 hingga 3.400 jiwa atau sekira 850 kepala keluarga (KK). Namun, akibat gempa 7,0 SR, seluruh bangunan rumah mengalami rusak berat hingga luluh lantak, rata dengan tanah.
Di desa ini terdapat 7 masjid, 8 musala, 5 bangunan PAUD, 1 bangunan SD, 1 MI, 1 MTs, 1 MA, dan sejumlah fasilitas umum lain. Diketahui ada gedung kantor desa, koperasi desa serta seluruh kios, warung, dan bangunan-bangunan pertokoan yang ada.
''Sampai hari ini seluruh fasiltas umum hancur dan tak berfungsi, termasuk saluran air bersih, baik yang dibangun PDAM maupun yang secara mandiri di bangun warga berupa perpipaan dari sumber air bersih di pegunungan di atas desa,'' jelas Wildhan.
Ia mengatakan, rerata warga di desa ini bekerja sebagai petani, buruh tani atau penggarap, buruh, pekerja bangunan, ahli mebel, dan TKI/TKW. Tidak kurang dari 150 orang menjadi TKI/TKW di Malaysia, Taiwan, Hong Kong, dan Saudi Arabia.
Titik pengungsian yang ada di Desa Dangiang tersebar di sejumlah titik. Titik terbesar dengan lebih dari 400 jumlah pengungsi ada di Melepahsari, di Sarimbun ada 200 jiwa, serta 8 tempat lainnya dalam jumlah lebih kecil tersebar di Dangiang Timur.
''Jumlah posko kecil-kecil ini mengelompok sesuai jumlah keluarga besar atau gabungan keluarga yang ada. Rata-rata komunitas ini berjumlah 10 sampai 30 kepala keluarga atau setara 20 hingga 70 jiwa,'' jelas Wildhan.
Secara umum, penduduk korban gempa tidak ada yang tidur di dalam rumahnya atau bangunan yang ada. Sebab, selain adanya kekhawatiran terjadi lagi gempa susulan, hampir semua kondisi bangunan yang tersisa justru berbahaya bagi siapa pun yang ada di dekatnya.
Rekomendasi yang cukup besar, jelas Wildhan, adanya usulan untuk pembuatan masjid dan musala darurat plus tempat wudhu/pancuran air serta tandon-nya. Di mana untuk kebutuhan masjid darurat, dibutuhkan terpal/tenda yang lebih besar serta alas/tikar untuk salat berjama'ah warga yang jumlahnya 250 hingga 300 orang jamaah.
''Setelah kami berkeliling dan bertemu dengan sejumlah pihak, baik dari unsur pemerintah desa, ustadz dan kiai yang ada di sini, di dapat sejumlah usulan program. Mulai dari penyediaan tenda/terpal untuk 100 buah, penyediaan tandon air/toren sebanyak 10 buah, tikar untuk alas tenda/terpal 100 buah,'' sampai Wildhan.
''Genset, selimut untuk korban yang rentan (anak kecil dan balita, yang sakit, ibu-ibu menyusui dan hamil, lansia dan yang luka-luka), alat-alat dapur, alat-alat kebersihan diri (higyne kit) seperti sabun, odol, shampo dan lain-lainnya,'' sambung Wildhan.
(Hantoro)