Sementara itu, selama 2018, di Indonesia juga terjadi peningkatan aktivitas gempa merusak menjadi 23 kali dari tahun sebelumnya yang terjadi sebanyak 19 kali .
Berdasarkan data ke-23 gempa merusak tersebut, sebanyak 19 gempa merusak dipicu aktivitas sesar aktif dan hanya empat gempa yang dipicu aktivitas subduksi lempeng.
Sepanjang 2018 BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami sebanyak dua kali, di mana peringatan pertama adalah saat terjadi gempa Lombok 5 Agustus 2018 dengan magnitudo 7,0 dengan status ancaman "waspada" diikuti ketinggian tsunami kurang dari 50 sentimeter.
Sementara yang kedua adalah peringatan dini tsunami saat terjadi Gempa Donggala-Palu pada 28 September 2018 dengan magnitudo 7,5 dan status ancaman "siaga" dengan tinggi ancaman tsunami 0,5 hingga 3 meter.
"Kedua peringatan dini tsunami ini benar-benar terbukti terjadi tsunami," ungkap Rahmat.
BMKG Akan Pasang Alat Pendeteksi Gelombang di Selat Sunda [News]. https://t.co/mlw7sJbJaL
— Okezone (@okezonenews) December 28, 2018