Sensor bertipe Ultrasonic yang berada dalam alat ini nantinya akan menghitung kecepatan dari objek yang dilepaskan (berupa sinyal frekuensi) yang bersifat tetap untuk mengukur ketinggian permukaan air laut.
"Data perekaman dari sensor Water Level akan dikirimkan langsung ke server BMKG dan di-update setiap satu menit sekali untuk mengetahui ketinggian air permukaan laut di wilayah tersebut," kata Widada, Kamis (3/1/2019).
Sekadar informasi, pada 24 Desember 2018, BMKG sudah terlebih dahulu memasang sensor ini di PLTU Labuhan, Banten. Pemasangan alat tersebut disiapkan setelah terjadinya bencana tsunami yang menerjang wilayah Banten dan Lampung Selatan akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau beberapa waktu lalu.
BMKG pun telah memiliki alat sensor water level sebanyak 26 unit yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
(Edi Hidayat)