"Itulah salah satunya yang kita janjikan, bahwa SMK itu tidak hanya sekadar ijazah saja, jadi pada saat tamat itu mereka bisa langsung bekerja. SMA juga sudah punya kemampuan dan bisa langsung kerja. Sehingga mencapai 60 persen berjarak 10 kilometer itu adalah orang-orang di lingkungan kampung sana. Nah selama ini kan tidak pernah terjadi hal itu," ujarnya.
Terlepas dari kekecewaan masyarakat sekitar terhadap janji-janji yang sering disampaikan caleg parpol di wilayah setempat yang tak pernah terealisasi, Adin berharap masyarakat dapat memberikan kepercayaan kepada Perindo yang telah terbukti melakukan aksi nyata dengan program-program dan kegiatan sosialnya.
"Karena selama ini kan mereka sudah kebal dengan janji-janji, mereka jadi melihat kita tuh dipandang sebelah mata. Datang saat ada perlunya saja. Jadi mereka merasa dimanfaatkan buat cari suara, kemudian dilupakan. Jadi kita mencoba amanah, berjanji, berkomitmen bisa merealisasikan keinginan mereka," tutur Adin.
Mendekati hari pencoblosan 17 April 2019, kata dia, Perindo kian masif menggerakkan mesin partai hingga ke akar rumput, untuk memenangkan suara khususnya di Jawa Barat sebagai provinsi berpenduduk terbanyak di Indonesia.
"Jawa Barat ini kan salah satu lumbung yang kita cari suaranya, jadi memang targetnya Ketum itu kita raih target suara sebanyaknya di Jawa Barat. Karena Jawa Barat selain dekat dengan Jakarta, potensi untuk menangnya lebih besar," ucapnya.