Tahun 1999
Terlepas dari beragam persoalan yang menyertainya, Pemilihan Umum (Pemilu) 1999 dinilai sebagai salah satu penyelenggaraan pemilu terbaik, selain Pemilu 1955. Pemilu demokratis pertama sejak era Reformasi 1998 itu menjadi kulminasi politik pasca-Orde Baru dengan keikutsertaan berbagai kekuatan politik yang sebelumnya terepresi.
Kala itu, sejumlah partai baru mendadak naik daun, mengalahkan parpol lama yang sudah lama merintis kekuatan massa di sejumlah wilayah di Tanah Air. Bila ditelusuri, ternyata perolehan suara saat itu mirip hasil Pemilu 1955, ketika parpol pemenang hanya unggul tipis. Ajang Pemilu 1999 tersebut hanya disiapkan selama 13 bulan oleh pemerintahan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie. Walau begitu, pemilu yang diikuti 48 partai politik ini berlangsung tepat waktu.
Usai perhitungan, ternyata Pemilu 1999 dimenangkan parpol baru: Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai ini merupakan pecahan dari Partai Demokrasi Indonesia pimpinan Soerjadi. Sebagai imbas dari Konflik 27 Juli 1999, mereka berhasil menarik simpati masyarakat dengan mendominasi perolehan suara di 11 provinsi pada 7 Juni 1999. Perolehan suara terbesar PDIP diperoleh di Bali sebesar 79 persen dan angka yang terkecil di Provinsi Sulawesi Selatan sebanyak 6,6 persen. Meski hanya 11 provinsi, PDIP menguasai 33,7 persen suara secara nasional.
Peringkat kedua dalam Pesta Demokrasi lima tahun silam ditempati Partai Golongan Karya, yang mendominasi perolehan suara di 13 provinsi. Partai Beringin berhasil mendulang suara terbanyak di Sulsel (66,5 persen) dan paling sedikit di Bali dengan 10,4 persen. Sementara persentase perolehan suara Golkar secara nasional sebesar 22,3 persen.
Posisi berikutnya untuk urutan secara nasional diperoleh Partai Kebangkitan Bangsa (12,6 persen). Partai yang diusung kaum Nahdliyin ini meraih suara terbanyak di Jawa Timur (35,5 persen), terendah di Sulawesi Utara (0,8 persen). Sedangkan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merebut angka 10,7 persen, dengan rincian terbesar di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (28,8 persen) dan terendah di Bali (0,9 persen). Lantas Partai Amanat Nasional (PAN) meraih suara terbesar di Sumatra Barat (22,2 persen) dan terendah di Bali (1,3 persen). Atau bisa disebut meraih suara secara nasional sebanyak 7,2 persen.
Di Jakarta, PDIP mendominasi seluruh wilayah (39,4 persen). Dari seluruh kecamatan di DKI Jakarta, hanya Kepulauan Seribu dan Pancoran, Jaksel, yang tidak dimenangkan PDIP. Disusul PPP di urutan kedua dan Golkar ketiga. Partai Golkar menang di Kecamatan Pulau Seribu, sedangkan PPP di Kecamatan Pancoran. PAN hanya menduduki urutan keempat dengan 16,8 persen suara, sementara Partai Keadilan sebanyak 4,9 persen, dan PKB merebut 3,4 persen.