INDONESIA kehilangan salah satu putra terbaiknya, Sutopo Purwo Nugroho. Pria yang dikenal sangat menjiwai pekerjaannya sebagai Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB itu meninggal dunia di Guangzhou, China dini hari tadi, Minggu 7 Juli 2019 di usia 49 tahun.
Selama masa tugasnya, Sutopo menginspirasi banyak orang karena semangatnya tetap menjalankan tugas di tengah kanker paru-paru yang dideritanya. Berbagai peristiwa bencana tetap disebar olehnya ke kalangan wartawan dan lewat media sosial di tengah proses pengobatan.
Melansir dari Wikipedia, Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, 7 Oktober 1969. Ia merupakan anak pertama Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari. Pendidikan SD, SMP, dan SMA ditempuhnya di kampung halamannya.
Sutopo memperoleh gelar S1 geografi di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1993 sebagai lulusan terbaik pada tahun tersebut. Selanjutnya ia mendapatkan gelar S2 dan S3 di bidang hidrologi di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Sutopo kemudian mulai bekerja di BPPT pada 1994. Ia bekerja pada bidang penyemaian awan. Perlahan-lahan, ia mulai naik pangkat ke Peneliti Senior Utama (IV/e).
Baca juga: BNPB Sangat Kehilangan atas Kepergian Sutopo Purwo Nugroho
Kemudian, ia membantu BNPB sebelum bekerja secara penuh di sana pada Agustus 2010. Awalnya Sutopo bekerja pada Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Di bulan-bulan pertama ia bekerja, terjadi bencana-bencana terkenal yang menerjang Indonesia seperti banjir di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai dan erupsi Gunung Merapi. Ia kemudian menjadi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB di November pada tahun yang sama.
Bahkan karena dikenal aktif memberitakan bencana di media sosial ketika sedang berlangsung, The Straits Times menyebutnya sebagai "pejabat Indonesia yang paling sering dikutip dalam berita selama bencana berlangsung". Ia menjadi salah satu nama yang disebut dalam daftar 'The First Responders'.