Mantan PM China Li Peng, Sang "Penjagal dari Beijing", Meninggal di Usia 90 Tahun

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 24 Juli 2019 09:25 WIB
Li Peng meninggal di usia 90 tahun. (Foto: Reuters)
Share :

BEIJING - Mantan perdana menteri China yang menerapkan status darurat militer pada demonstrasi Tiananmen 1989, Li Peng, telah meninggal dunia di usia 90 tahun. Li meninggal di Beijing pada Senin malam, 22 Juli, karena penyakit yang tidak dijelaskan secara detail.

Li menjabat sebagai perdana menteri China pada 1980-an dan 1990-an. Namun, dia dikenal dengan julukannya “Penjagal dari Beijing” karena perannya tindakan keras militer pada demonstrasi Lapangan Tiananmen, 4 Juni 1989 di mana tentara rakyat China menewaskan ratusan warga sipil tak bersenjata. Li mengatakan bahwa tindakannya itu adalah langkah yang perlu dilakukan.

BACA JUGA: Peristiwa Tiananmen 1989, Apa yang Terjadi di China?

Diwartakan BBC, Bersama dengan Pemimpin Utama China, Deng Xiaoping, Li dipandang sebagai seorang penganut garis keras yang bertanggung jawab memerintahkan serangan yang menghancurkan demonstrasi pro-demokrasi yang telah berlangsung selama beberapa pekan di pusat Kota Beijing.

Dalam obituarinya, kantor berita resmi Xinhua mengatakan Li telah "mengambil langkah tegas untuk menghentikan kerusuhan dan memadamkan kekerasan kontra-revolusioner" selama protes Tiananmen.

Menurut keterangan yang diberikan oleh pejabat beberapa hari setelah penumpasan itu, jumlah korban tewas dalam insiden itu mencapai sekira 300 orang, sebagian besar dari mereka tentara, dengan hanya 23 siswa dikonfirmasi tewas. Saat ini, insiden Lapangan Tiananmen adalah topik yang tabu untuk dibicarakan di China dan menjadi subyek sensor pemerintah.

BACA JUGA: China Mengenang 30 Tahun Tragedi Tiananmen

Di China, Li lebih dikenal karena perannya dalam memodernisasi ekonomi negara, membuka jalan peningkatan pesat China menjadi salah satu negara besar di kancah global.

Sementara di sisi lain, citranya di luar negeri ternoda oleh episode berdarah 1989. Selama bertahun-tahun, penampilannya di luar negeri telah menarik banyak demonstrasi massa, terutama di Paris pada 1996, ketika ribuan orang memprotes kunjungannya.

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya