JAKARTA - Divisi Humas Polri mengundang para pegiat rumah produksi atau Production House (PH) yang menayangkan program kepolisian dalam kegiatan workshop (lokakarya) untuk ikut menekan isu negatif dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Kepala Divisi (Kadiv) Humas Polri, Irjen Mohammad Iqbal mengapresiasi banyaknya tayangan program polisi di stasiun televisi. Menurutnya hal itu sejalan dengan prinsip manajemen media oleh Divisi Humas Polri untuk menaikan isu positif dan menekan isu negatif.
"Secara langsung dan tidak langsung membuat public trust meningkat. Setidaknya melihat polisi semakin baik, jaminan keamanan semakin terasa oleh masyarakat," kata Iqbal dalam kegiatan Workshop bertema 'Dalam Menjaga Citra Polri Melalui Asistensi Terhadap Rumah Produksi Kreatif Film Agar Tidak Kontra Produktif' di Hotel Diradja, Jakarta Selatan, Kamis (30/1/2020).
Akan ketetapi kata Iqbal, bilamana tayangan yang menampilkan kepolisian dalam contoh cara membawa tersangka, memakai seragam, teknik tidak sesuai standard operational procedure tidak benar akan mempengaruhi persepsi publik.
"Kalau bicara dalam mempengaruhi persepsi publik, media online radio, itu kalah dengan televisi bisa 100 persen mempengaruhi, mengedukasi kalau kita salah, edukasi tidak tepat tujuan utama jadi tidak tepat. Kita melakukan satu persepsi tayangan kriminal ini ada aturan mainnya," tandas Iqbal.
Sementara Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas), Brigjen Argo Yuwono mengatakan Polri membuka diri membantu rumah produksi seperti dalam pembuatan film yang memerlukan kantor polisi, kendaraan patroli dan peran polisi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
"Kami komunikasikan bisa bantu biar hasilnya maksimal dan mengedukasi masyarakat terutama mereka yang ingin masuk kepolisian," ujar Argo.