PONTIANAK - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar-besaran pada musim kemarau 2019 lalu masih menyisakan duka. Kerusakan ekologi akibat api tidak bisa pulih begitu saja, meskipun hujan sudah kembali membasahi bumi. Efek karhutla masih terasa hingga saat ini.
Sebagai makhluk yang hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan, orangutan paling merasakan dampak hancurnya hutan akibat karhutla ini. Kebakaran yang menghancurkan rumah mereka membuat satwa dilindungi ini kehilangan tidak hanya sumber makanan, tetapi juga merampas ruang hidupnya.
Mereka terpaksa mencari tempat yang lebih baik, meskipun kenyataannya hutan sudah benar-benar musnah dan tidak ada lagi tempat untuk menyelamatkan diri. Mereka biasanya akan berakhir di kebun atau pemukiman warga dan menghadapi risiko konflik dengan manusia. Kondisi ini terus terjadi.
Baca juga: 10 Hektar Kebun Sawit di Siak Terbakar, Petugas Pemadam Kewalahan
Baru-baru ini, migrasinya orangutan ke pemukiman warga terjadi di kawasan Jalan Pelang-Tumbang Titi km 9, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Purnomo, seorang warga mengaku adanya orangutan yang sudah tiga hari bersarang di depan rumahnya di Jalan Pelang-Tumbang Titi tersebut. Menurut keterangannya, orangutan-orangutan ini berasal dari hutan di sebelah timur jalan yang hangus terbakar dan kemudian menyeberang jalan raya.
Ironisnya, tempat para orangutan menyelamatkan diri inipun sudah tidak lagi menyisakan pepohohan yang cukup layak untuk mereka makan dan mencari penghidupan.
Baca juga: Jokowi: 99% Karhutla karena Ulah Manusia Bermotif Ekonomi
Tak mau berkonflik dengan satwa ini, Purnomo pun melapor ke pihak terkait. Tim gabungan IAR Indonesia dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi wilayah (SKW) I Ketapang kemudian turun ke lokasi untuk melakukan penyelamatan.
Upaya penyelamatan pada Minggu 2 Februari 2020 ini, merupakan yang kesekiankalinya. Setelah sebelumnya tim gabungan menyelamatkan belasan orangutan yang kehilangan rumah pasca karhutla besar 2019.
"Penyelamatan tiga individu orangutan (dua induk dan anak) dari Jalan Pelang-Tumbang Titi ini dilakukan lantaran di hutan tempat kedua orangutan ini sudah habis terbakar, menyisakan sisa batang pohon yang hangus dan ilalang yang mulai tumbuh," ujar Argitoe Ranting, Manager Survey, Release dan Monitoring yang terjun langsung dalam kegiatan penyelamatan ini dalam keterangan pers yang diterima Okezone, Jumat (7/2/2020).
Dijelaskannya, ketika tim penyelamat datang, tim menemukan tiga individu orangutan. Yakni, satu jantan dewasa, satu betina dewasa dan anaknya yang diperkirakan berusia 3 tahun.
"Mereka bertahan di pohon kering yang nampaknya kepayahan menahan beban mereka," ujarnya.