JAKARTA – Tiga warga hanyut saat banjir di Desa Domisil, Kecamatan Sang Tombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow. Seorang di antaranya Musdalifa Harun, bocah perempuan berusia lima tahun tewas. Sementara lima rumah hanyut dan 50 lainnya rusak.
“Banjir di Desa Domisil (mengakibatkan tiga warga hanyut. BPBD setempat mengidentifikasi korban meninggal atas nama Musdalifa Harun, sedangkan dua lainnya berhasil diselamatkan," kata Agus Wibowo, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB dalam keterangan tertulis, Kamis (5/2/2020).
Banjir terjadi, pada Rabu 4 Maret 2020 dini hari. Selain banjir, pada saat bersamaan juga terjadi longsor di Desa Pangi dan Pangi Timur, Kecamatan Sang Tombolang.
Banjir di Bolaang Mangondow Utara (BNPB)
Berdasarkan informasi dari BPBD setempat, hujan terjadi sejak dua hari terakhir di wilayah Bolaang Mongondow dengan intensitas sedang hingga tinggi.
Baca juga: 3.650 Warga Mengungsi Akibat Banjir di Bolaang Mondondow Utara
Banjir di Desa Domisil mengakibatkan 66 Kepala Keluarga (KK) atau 250 jiwa mengungsi. Mereka mengungsi di rumah kerabat dan terangga terdekat.
“Sedangkan kerugiaan fisik, banjir menghanyutkan 5 unit rumah warga serta rusak berat 10, rusak sedang 10 dan rusak ringan 30 serta fasilitas umum lain. Di samping itu 15 hektar lahan perkebunan tergenang air. Kerugian di desa ini diperkirakan mencapai Rp 1,2 miliar, Ujar Agus.
Sedangkan Desa Pangi dan Pangi Timur, dampak akibat longsor masih dalam pendataan BPBD.
Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow sudah mengevakuasi warga terdampak, mendirikan tenda pengungsian serta pos komando di Desa Domisil. Bantuan berupa permakanan juga sudah didistribusikan kepada masyarakat terdampak, baik dari BPBD, dinas sosial dan OPD lain. Masyarakat tetangga pun juga membantu untuk mengirimkan bantuan logistik.
Terkait dengan akses jalan tertutup longsor, pemerintah daerah telah mendatangkan alat berat dan berkoordinasi dengan Balai Jalan Provinsi agar akses menuju dua desa terdampak bisa segera dilalui.
Bupati Bolaang Mongondow sudah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, banjir bandang dan tanah longsor dan keputusan mengaktivasi posko tanggap darurat.
BPBD di sebagian besar wilayah Indonesia untuk selalu waspada dan siaga mengingat potensi banjir dan longsor yang masih tinggi. BMKG memprakiraakan beberapa wilayah dengan intensitas tinggi hingga sangat tinggi, seperti di Sulawesi Tenggara, hingga Maret ini. Di samping itu, warga juga perlu bersiaga untuk menghadapo setiap potensi bahaya, termasuk dengan penyebaran virus Korona.
(Salman Mardira)