JAKARTA - Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI (Purn) Pramono Edhie Wibowo meninggal dunia, di Rumah Sakit Cimacan, Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (13/6/2020) sekira pukul 19.30 WIB.
Wasekjen Partai Demokrat, Renanda Bachtar menceritakan kenangan dirinya dengan Pramono Edhie sekira 2019 lalu. Saat itu Pramono Edhie tengah pulang pergi dari Jakarta ke Singapura untuk memeriksa kesehatannya dalam rangka persiapan menjadi donor sumsum tulang belakang untuk kakaknya almarhumah Ani Yudhoyono.
"Hasilnya kondisi pak Edi sehat dan siap menjadi donor bagi ibu Ani. Pak Edi penuh semangat menjalani semua tes fisik di National University Hospital Singapore, sekalipun ia harus mondar mandir Jakarta/Singapore," kata Renanda kepada Okezone.
Baca juga: Mengenang Pramono Edhie Wibowo, Mantan KSAD dan Pernah Jadi Ajudan Megawati
Kata Renanda, karakter militer Pramono Edhie menjadi bagian dari personalitasnya. Mantan Danjen Kopassus itu kerap bercerita pengalaman-pengalamannya di dunia militer.
"Saya, bersama pak SBY dan ibu Ani lumayan sering ngobrol dan mendengarkan pengalaman-pengalaman seru dan lucu pak Edi ketika muda maupun ketika menjabat sebagai Danjen Kopasus dan Kasad. Selamat jalan pak PEW, kami kehilangan," pungkasnya.
Baca juga: Pramono Edhie Meninggal, Wasekjen Demokrat: Selama Ini Beliau Fisiknya Prima Sekali
Pramono sendiri merupakan pria kelahiran Magelang, Jawa Tengah, 5 Mei 1955. Dia adalah putra Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo yang juga adik Ani Yudhoyono.
Pramono Edhie lulusan AKABRI tahun 1980. Mengawali karir sebagai Komandan Peleton Grup I Kopassandha (1980), tahun 1995 dia dipercaya menjadi Komandan Grup I/Kopassus .
Lulusan Sesko TNI 2001 itu juga sempat menjadi Ajudan Presiden Megawati Soekarnoputri pada tahun 2001. Tiga tahun kemudian dia dipercaya sebagai perwira tinggi Staf Ahli Bidang Ekonomi Politik Sesko TNI dan pada 2005 diangkat sebagai Wakil Danjen Kopassus. Tahun 2007, Pramono dipercaya sebagai Kasdam IV/Diponegoro.
Karirnya makin menanjak ketika dipilih sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) menggantikan Letjen TNI Burhanuddin Amin sejak 30 September 2010.
Namun kini putra terbaik Indonesia itu telah pergi. Pramono Edhie menhembuskan nafas terakhir di usia yang ke-65 tahun.
(Awaludin)